Ramadhan Suram Bagi Muslim di Jalur Gaza

Merujuk berita SuaraMedia yang saya sampaikan di bawah ini, maka APAKAH PANTAS KITA DISEBUT KAUM MUSLIM yang notabene bahwa sesama muslim adalah saudara, ibarat satu badan sebagian merasa sakit maka bagian yang lain merasa sakit juga. PANTASKAH KITA MASUK SURGA………….

Ramadhan Suram Bagi Muslim di Jalur Gaza
DIER AL-BALAH, JALUR GAZA  “Hari tanpa listrik dan air sudah berlangsung lama. Kami tidak dapat melakukan apapun, dan sekarang benar-benar tak tertahankan panasnya.” Abu Fouad, 83 tahun, berbicara tentang pemutusan daya listrik yang mewabah di seluruh Jalur Gaza.

Sementara warga Palestina di Gaza telah menjadi terbiasa dengan padamnya listrik, sebuah akibat campuran dari dihancurkannya sumber listrik, yang dibom oleh Israel pada tahun 2006, dan pengepungan yang dilakukan oleh Israel dan komunitas internasional, pemadaman listrik tersebut telah meningkat secara frekuensi dan durasi.

Selama bertahun-tahun, warga Palestina di Gaza telah menjadi subjek bagi pemadaman listrik, berjangkauan dari enam sampai 14 jam per hari. Baru-baru ini, pemadaman berlangsung seharian penuh.

Alasan utama, dilaporkan kurangnya bahan bakar sumber tenaga listrik tersebut, bahan bakar yang sejak November 2009 Otoritas Palestina bertanggung jawan untuk membeli dan memindahkannya ke Gaza.

Membuat masalah semakin buruk, Gaza mengalami sebuah gelombang panas dan kelembaban yang tidak dapat ditolerir. Suhu udara telah meningkat antara 35 sampai 40 derajat Celcius, dengan kelembaban mencapai 65 persen.

Umm Fouad, 64 tahun, telah memiliki 15 anak, dan karenanya memiliki kelelahan tubuh. Dengan kesehatan yang berkurang, ia sering merasa lelah pada hari biasa.

“Sangat panas. Seharian penuh saya tidak bisa bernafas, dan saya sangat kelelahan. Tidak ada bantuan. Bahkan ketika ada listrik, kipas angin gantung hanya mendorong udara panas berputar di dalam ruangan. Namun sekarang tanpa listrik untuk waktu yang lama, segala sesuatu bahkan lebih panas dan lebih berat.”

Ramadhan, sebuah bulan puasa, juga adalah sebuah waktu yang menyenangkan bagi umat Muslim. Namun bulan suci tahun ini adalah bulan Ramadhan yang paling berat yang pernah dihadapi keluarga Fouad.

Disamping panas dan kelembaban tinggi yang berbahaya, terdapat kekhawatiran. “Kami tidak dapat membuat roti, tidak ada listrik untuk memanggang dan kami tidak memiliki kompor gas,” Umm Fouad mengatakan.

“Telah tiga hari ini kami tidak memiliki air,” Abu Jaber, 45 tahun, salah satu dari banyak anak laki-laki Abu Fouad, mengatakan. apartemennya berada di lantai tiga dari sebuah rumah sederhana, dan sepanjang bulan-bulan musim panas meningkat sampai tidak tertahankan berada di dalam ruangan.

“Ada 53 orang yang tinggal di rumah ini. Enam apartemen kami masing-masing membutuhkan sekitar 1.500 liter air setiap hari, untuk memasak, mencuci, membersihkan, mandi…dan itu belum termasuk air minum.”

Seperti halnya rumah lain di lingkungan tersebut, rumah itu tidak terhubung dengan saluran air kota. Malahan, ketika air kota mengalir ke sebuah saluran publik 150 meter dari rumah tersebut, Abu Fouad menghubungkan sebuah pipa dan melewati serangkaian pompa, mengalirkannya ke atas, ke penampungan air di atap. “Kami membutuhkan lima pompa air untuk membawa air tersebut dari penghubung kota ke atap rumah kami,” Abu Jaber menjelaskan.

Di seluruh Jalur tersebut, saluran air dipengaruhi oleh kurangnya listrik, yang berarti keseluruhan daerah tersebut terputus dari air yang mengalir selama pemadaman tersebut berlangsung.

Kurangnya air di daerah Gaza yang luas melipatgandakan masalah. PBB mencatat bahwa 43 persen air di jaringan tersebut hilang karena kebocoran yang diakibatkan dari sebuah kebutuhan untuk merehabilitasi jaringan air. Namun di bawah kepungan, membawa dasar saluran pipa dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proyek ini menjadi tidak mungkin.

“Sekarang pemadaman listrik berlangsung berhari-hari pada satu waktu, ayah saya tidak mampu membawa air yang dibutuhkan keluarga kami,” Abu Jaber mengatakan.

“Ketika daerah kami memiliki listrik, saluran air tidak berjalan. Dan jika ada air, kami tidak memiliki listrik. Sehingga ayah saya tetap terjaga sepanjang malam menunggu listrik datang.”

Abu Fouad menjelaskan bahwa rutin merawat tangki air. “Dalam keadaan baik, ketika kami mendapatkan listrik, masih saja membutuhkan sedikitnya satu setengah jam untuk memompa air ke setiap 1.500 liter tangki. Karena ada enam tangki, membutuhkan hampir setengah hari.”

Namun hal itu terjadi ketika ada listrik reguler. Sekarang dengan adanya pemotongan listrik, dibiarkan menunggu waktu ketika listrik dan kota berkebetulan datang.

“Saya khawatir tentang semua orang di rumah kami. Mereka semua membutuhkan air. Bagaimana mereka berwudhu untuk sholat? Bagaiamana mereka mendinginkan diri di saat panas yang seperti ini?”

Kepala keluarga, ia memikirkan anak-anak dan keluarganya. “Setiap orang datang ke rumah dari kerja atau sekolah ingin membasuh diri mereka dan menyegarkan kembali. Namun saat ini sangat sulit melakukan hal itu.”

Seorang Muslim yang taat, ia mengkhawatirkan tentang kebersihan untuk sholat. “Sekarang adalah Ramadhan, semakin penting untuk membasuh diri. Saya tidak ingin meminta banyak, namun saya benar-benar harus membersihkan tangan saya, wajah, tubuh sebelum sholat dan saya sholat lima kali dalam sehari.”

Menunggu kesempatan untuk mengisi ulang tangki air mereka, Abu Fouad sedang beristirahat.

“Saya tidak tidur begitu lama. Lebih mudah untuk melaluinya tanpa tidur ketika Anda muda, namun ketika Anda berusia lanjut seperti saya, dalam keadaan panas ini, Anda menderita. Saya sangat lelah. Sendi-sendi saya sakit. Saya membutuhkan istirahat ini. Saya membutuhkan air untuk membersihkan diri.”

Abu Jaber setuju bahwa masalah tersebut mempengaruhi keseluruhan rumah. “Putri saya secara virtual belajar di universitas, dan ia benar-benar membutuhkan sebuah komputer dan akses internet untuk menjalankan studinya.”

Anak laki-lakinya yang berusia delapan tahun, juga merasakan pemadaman tersebut. “Ia berpuasa tahun ini. Ia berpuasa tahun lalu, tidak ada masalah. Namun karena tidak ada bantuan dari panas yang terus-terusan ini, ia merasa sangat berat secara psikis tahun ini”. Abu Jaber berbicara tentang adik laki-lakinya, 31 tahun, dan tanpa pekerjaan selama beberapa tahun. “Saudara laki-laki saya membuka sebuah toko es krim beberapa bulan lalu, yang bekerja sepanjang bulan-bulan musim panas. Dan tepat ketika ia memulai mendapatkan pelanggan dan mengumpulkan apa yang telah ia investasikan, pemadaman listrik bertambah memburuk.”

“Uang yang saya dapatkan dari toko tidak mengimbangi untuk apa yang saya habiskan dari uang untuk membuka toko tersebut. Generator saya tidak dimaksudkan untuk berfungsi selama berjam-jam pada saat yang sama,” Abu Oday mengatakan. “Dan untuk menjalankannya selama enam jam, membutuhkan biaya 30 shekel (tujuh dolar) untuk bahan bakar.”

Pengangguran sebelum membuka toko tersebut, pria 29 tahun tersebut ingin sebuah pemasukan yang menafkahi istrinya dan tiga anaknya. “Pada akhirnya saya membayar lebih untuk diesel dan gnerator dari pada jumlah uang yang saya dapatkan. Jadi saya menutup toko tersebut.”

Masalah dari satu keluarga dicerminkan oleh keluarga di sekitar Jalur tersebut, dengan sebuah populasi sebesar 1,5 juta orang di tempat yang sangat kecil, lahan kecil yang sangat panas.

“Karena gangguan listrik dan air tersebut, kali ini adalah Ramadhan terberat yang pernah saya alami,” Umm Fouad mengatakan. “Namun kami tetap melanjutkan berpuasa.” (ppt/ips)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: