IBRAHIM BAPAK TAUHID (2)

PENJELASAN LOGIKA IBRAHIM
 
Ibrahim  sangat  menyadari  bahwa  Allah menguasai alam semesta, tetapi  pertanyaannya  adalah:  Apakah  sumber kekuatan  itu terdiri dari benda-benda langit ini, atau suatu  Wujud  Yang   Mahakuasa,   yang   lebih   tinggi daripadanya?  Setelah  mengkaji  kondisi-kondisi  benda yang  berubah-ubah  ini,  Ibrahim   mendapatkan   bahwa wujud-wujud  yang cerah dan bersinar itu sendiri tunduk pada ketetapan -terbit, terbenam, dan  lenyap-  menurut sistem  tertentu dan berotasi pada suatu jalan yang tak berubah-ubah. Ini membuktikan bahwa mereka tunduk  pada
kehendak  dari  sesuatu  yang lain; suatu kekuatan yang lebih  besar  dan  lebih  kuat  mengontrol  mereka  dan membuat   mereka   berotasi   pada   orbit  yang  telah ditentukan.
 
Marilah kita  bahas  masalah  ini  lebih  lanjut.  Alam semesta   sepenuhnya   memiliki  “peluang-peluang”  dan “kebutuhan-kebutuhan.” Berbagai  makhluk  dan  fenomena alami  tak  pernah  lepas  dari  Yang Mahakuasa. Mereka membutuhkan Tuhan Yang  Mahatahu  dalam  setiap  detik, siang  dan  malam  – Tuhan yang tidak pernah lalai akan kebutuhan mereka.  Benda-benda  langit  itu  hadir  dan diperlukan  pada  suatu  saat  dan  tak hadir serta tak berguna pada saat  lainnya.  Wujud  seperti  itu  tidak mempunyai kemampuan yang diperlukan untuk menjadi tuhan dan  wujud  lainnya,  untuk  memenuhi   kebutuhan   dan keperluan mereka
 
Teori   ini   dapat  diperluas  dalam  bentuk  berbagai pernyataan  teoritis  dan  filosofis.  Misalnya,   kita mungkin mengatakan: Benda-benda langit ini bergerak dan berputar   pada   sumbunya    masing-masing.    Apabila gerakannya   itu   tanpa   pilihan   dan  atas  paksaan semata-mata, tentulah ada tangan yang lebih  kuat  yang mengendalikannya.   Apabila  gerakannya  sesuai  dengan kehendaknya sendiri,  haruslah  dilihat  apakah  tujuan dari   gerakan   itu.  Apabila  mereka  bergerak  untuk mencapai kesempurnaan, seperti benih yang bangkit  dari bumi  untuk  tumbuh menjadi pohon dan berbuah, maka itu berarti mereka memerlukan suatu wujud yang  independen, kuasa,    dan   bijaksana   yang   akan   menyingkirkan kekurangan-kekurangan mereka dan menganugerahkan kepada mereka  sifat  kesempurnaan. Apabila gerakan dan rotasi mereka menuju  kepada  kelemahan  dan  kekurangan,  dan halnya  seperti  orang yang melewati usia puncaknya dan memasuki  sisi  usia  yang  salah,  maka  itu   berarti gerakannya  cenderung kepada kemunduran dan kehancuran, dan dengan demikian tidak sesuai dengan posisi  sebagai tuhan yang akan menguasai dunia dan segala isinya.
 
METODE DISKUSI DAN DEBAT PARA NABI
 
Sejarah  para  nabi  menunjukkan  bahwa  mereka memulai program  reformasi  dengan  mengundang   para   anggota keluarga  mereka  kepada  jalan  yang  benar,  kemudian mereka memperluas dakwah itu  kepada  orang  lain.  Ini pulalah  yang  dilakukan  Nabi  Muhammad segera setelah beliau  ditunjuk  sebagai  nabi.  Pertama-tama   beliau mengajak  kaumnya  sendiri kepada Islam, dan meletakkan fundasi dakwahnya pada reformasi mereka, sesuai  dengan perintah   Allah,   “Dan   berilah   peringatan  kepada kerabat-kerabatmu yang  terdekat.”
 (QS,  asy-Syu’ara’, 26:2l3)
 
Ibrahim  juga  mengambil  metode  yang  sama. Mula-mula beliau  berusaha  mereformasi  kaum  kerabatnya.   Azar menduduki   posisi   yang  sangat  tinggi  di  kalangan familinya,  karena,  selain  terpelajar   dan   seorang seniman,  ia  juga  ahli  astrologi.  Di istana Namrud, kata-katanya       sangat       berpengaruh,        dan kesimpulan-kesimpulan   astrologinya   diterima   semua penghuni istana.  Ibrahim sadar bahwa apabila ia herhasil meraih Azar  ke pihaknya maka ia akan merebut benteng terkuat dari para penyembah berhala. Oleh karena  itu,  ia  menasihatinya dengan  cara  sebaik  mungkin  supaya  tidak  mcnyembah benda-benda mati. Tetapi, karena beberapa alasan,  Azar tidak  menerima  ajakan  dan  nasihat  Ibrahim.  Namun,
sejauh berhubungan dengan kita,  hal  terpenting  dalam episode  ini  ialah metode dakwah dan bentuk percakapan Ibrahim dengan Azar. Lewat kajian mendalam  dan  cermat terhadap  ayat-ayat  Al-Qur’an  yang merekam percakapan ini, metode argumen dan dakwah yang ditempuh para  nabi itu  menjadi  amat  sangat  jelas.  Marilah  kita lihat bagaimana  Ibrahim  mengajak  Azar  kepada  jalan  yang benar:
 
“Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku,  mengapa  kamu  menyembah  sesuatu  yang  tidak mendengar;  tidak  melihat,  dan  tidak  menolong  kamu sedikitpun. Wahai  ayahku,  sesungguhnya  telah  datang kepadaku  sebagian  ilmu  pengetahuan yang tidak datang kepadamu,  maka  ikutilah   aku,   niscaya   aku   akan menunjukkan  kepadamu  jalan  yang lurus. Wahai ayahku,janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya  syaitan itu  durhaka  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Pemurah. Wahai ayahku,  sesungguhnya  aku  khawatir  bahwa  kamu  akan
ditimpa  azab  dan  Tuhan  Yang  Maha Pemurah, sehingga jadilah kamu kawan syaitan.'” (QS, Maryam, 19:42-45)
 
Sebagai jawaban  atas  ajakan  Ibrahim,  Azar  berkata, “Beranikah   engkau   menyangkal   tuhan-tuhanku,   hai Ibrahim? Bertobatlah dari ketololan itu!  Kalau  tidak, engkau  akan dirajam sampai mati. Keluarlah segera dari rumahku!”
 
Ibrahim yang murah hati menerima kata-kata  kasar  Azar ini  dengan ketenangan sempurna seraya menjawab, “Salam atasmu.  Aku  akan   memohon   kepada   Tuhanku   untuk mengampunimu.”
 
Adakah  jawaban yang lebih pantas dan ucapan yang lebih patut daripada kata-kata Ibrahim ini?
 
APAKAH AZAR AYAH IBRAHIM?

 
Ayat-ayat yang dikutip di atas, maupun ayat (15)  surah at-Taubah  dan (14) surah al-Mumtahanah, seakan memberi kesan hubungan Azar dengan  Ibrahim  sebagai  ayah  dan anak.  Namun,  perlu  diinformasikan di sini bahwa dari perspektif Syi’ah, penyembah berhala Azar sebagai  ayah Ibrahim  tidaklah  sesuai  dengan  konsensus para ulama mereka yang percaya bahwa nenek  moyang  Nabi  Muhammad maupun semua nabi lainnya adalah orang-orang takwa yang beriman  tauhid.  Ulama  besar  Syi’ah,  Syekh   Mufid, memandang anggapan ini sebagai salah satu pendapat yang disepakati seluruh  ulama  Syi’ah  dan  sejumlah  besar ulama  Sunni  (lihat  Awa’il al-Malaqat, hal. 12). Oleh karena  itu,  timbul  pertanyaan:  Apakah  sesungguhnya maksud  ayat-ayat  yang nampak jelas itu, dan bagaimana masalah ini harus dipecahkan?
 
Banyak mufasir Al-Qur’an menegaskan bahwa walaupun kata ab  dalam  bahasa  Arab  biasanya  digunakan dalam arti
“ayah,” kadang-kadang kata  itu  juga  digunakan  dalam leksikon  Arab  dan  terminologi  Al-Qur’an  dalam arti “paman.” Dalam ayat berikut, misalnya, kata ab  berarti “paman”
 
“Adakah    kamu    hadir   ketika   Ya’qub   kedatangan [tanda-tanda]   maut,   ketika   ia   berkata    kepada anak-anaknya,  ‘Apa  yang  kamu  sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ab-Smu,  [yakni]  Ibrahim,  Isma’il, dan Ishaq, [yaitu] Tuhan Yang  Maha  Esa,  dan  kami  hanya  tunduk  patuh kepada-Nya.” (QS, al-Baqarah, 2:133)
 
Tiada keraguan bahwa Isma’il adalah paman Ya’qub, bukan ayahnya, karena Ya’qub adalah putra Ishaq yang  saudara Isma’il.    Walaupun   demikian,   putra-putra   Ya’qub memanggilnya “ayah Ya’qub” yakni ab Ya’qub. Karena kata ini  mengandung  dua  makna,  maka  pada ayat-ayat yang berhubungan dengan diajaknya Azar ke jalan  yang  benar oleh Ibrahim, boleh jadi yang dimaksud dengannya adalah “paman.”  Dan  boleh  jadi  pula  Ibrahim  memanggilnya “ayah,”  karena ia telah bertindak sebagai wali baginya dalam waktu  yang  panjang,  dan  Ibrahim  memandangnya sebagai ayahnya.
 
AZAR DALAM AL-QUR’AN
 
Dengan  maksud  untuk  mendapatkan  keputusan Al-Qur’an tentang hubungan Ibrahim dengan Azar, kami merasa perlu mengundang perhatian pembaca pada keterangan dua ayat:
 
1. Sebagai akibat usaha keras Nabi, Arabia disinari cahaya Islam. Kebanyakan rakyat memeluk agama ini dengan sepenuh hati, dan menyadari bahwa syirik dan pemujaan berhala akan berakhir di neraka. Walaupun mereka bahagia karena telah memasuki agama yang benar, mereka merasa sedih mengingat nenek moyang mereka yang penyembah berhala. Mendengar ayat-ayat yang menggambarkan nasib kaum musyrik di Hari Pengadilan, terasa berat bagi mereka. Untuk menjauhkan siksaan mental ini, mereka memohon kepada Nabi untuk berdoa kepada Allah bagi keampunan nenek moyang mereka yang telah mati sebagai orang kafir, sama sebagaimana Ibrahim berdoa bagi Azar. Namun, ayat berikut diwahyukan sebagai jawaban atas permohonan mereka:
 
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang musyrik, walaupun orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, Ibrahim pun berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya bagi penyantun.” (QS, at-Taubah, 9:113-114)
 
Akan nampak lebih masuk akal apabila percakapan Ibrahim dengan Azar, dan janjinya kepada Azar untuk mendoakan bagi keampunannya, yang berakhir dengan putusnya hubungan serta perpisahan mereka, terjadi ketika Ibrahim masih muda, yakni ketika ia masih tinggal di Babilon dan belum berniat ke Palestina, Mesir, dan Hijaz. Setelah mengkaji ayat ini, dapat disimpulkan bahwa Azar bersikeras pada kekafiran dan penyembahan berhalanya, dan Ibrahim, yang masih muda, memutuskan hubungannya dengan Azar dan tak pernah memikirkannya lagi sesudah itu.
 
2. Di bagian terakhir masa hidupnya, yakni ketika ia telah lanjut usia, setelah melaksanakan sebagian besar tugasnya (yakni pembangunan Ka’bah) dan membawa istri dan anaknya ke gurun kering Mekah, ia berdoa dari lubuk hatinya bagi sejumlah orang, termasuk kedua orang tuanya, dan memohon agar doanya dikabulkan Allah. Pada waktu itu beliau berdoa, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS, Ibrahim 14:41)
 
Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa doa itu diucapkan setelah selesainya pembangunan Ka’bah, ketika Ibrahim sudah berada di usia tuanya. Apabila sang ayah dalam ayat ini, yang kepadanya telah ia persembahkan cinta dan bakti dan yang didoakannya, adalah Azar itu,maka ini akan berarti bahwa Ibrahim tidak berlepas diri darinya sepanjang hidupnya, dan terkadang beliau juga berdoa untuknya. Padahal, ayat pertama, yang diwahyukan sebagai jawaban atas permohonan para keturunan musyrikin itu, menjelaskan bahwa setelah suatu waktu, ketika ia masih muda, Ibrahim telah memutuskan segala hubungan dengan Azar dan menjauh darinya – berlepas diri berarti tidak lagi saling berbicara, tidak peduli, dan tidak saling mendoakan keselamatan. Ketika dua ayat ini dibaca bersama-sama, terlihat jelas bahwa  orang yang dibenci Ibrahim di usia mudanya, yang dengannya ia memutuskan segala hubungan kepentingan dan cinta,  bukanlah  orang  yang  diingatnya  hingga  usia tuanya, yang  untuk  keampunan  dan  keselamatannya  ia berdoa (lihat Majma’ al-Bayan, III, hal. 319; al-Mizan, VII, 170).
 
IBRAHIM, SI PENGHANCUR BERHALA
 
Saat perayaan mendekat, penduduk Babilon  berangkat  ke hutan untuk melepaskan lelah, memulihkan tenaga mereka, dan melaksanakan upacara  perayaan  itu.  Kota  menjadi sepi.  Perbuatan  Ibrahim, celaan dan kecamannya, telah mencemaskan mereka. Karena itu, mereka mendesak Ibrahim untuk pergi bersama mereka dan ikut serta dalam upacara perayaan.  Namun,  usul  dan  desakan   mereka   datang bertepatan dengan sakitnya Ibrahim. Karena itu, sebagai
jawabannya, Ibrahim mengatakan  sedang  sakit  dan  tak akan menyertai upacara perayaan itu.
 
Sesungguhnya,  itulah  hari  gembira  bagi  sang  tokoh tauhid, sebagaimana bagi para musyrik  itu.  Bagi  kaum musyrik,  itu  adalah  pesta  perayaan yang sangat tua. Mereka pergi ke kaki gunung di lapangan-lapangan  hijau untuk  melaksanakan  upacara  perayaan dan menghidupkan adat kebiasaan nenek  moyang  mereka.  Bagi  si  jawara tauhid,  hari itu pun merupakan hari raya besar pertama yang  telah  lama  dirindukannya,  untuk  menghancurkan manifestasi  kekafiran  dan  kemusyrikan,  ketika  kota sedang bersih dan lawan-lawannya.
 
Ketika “keloter” terakhir penduduk  meninggalkan  kota, Ibrahim  merasa bahwa saat itulah kesempatannya. Dengan hati penuh keyakinan  dan  iman  kepada  Allah,  beliau memasuki  rumah  berhala.  Di dalamnya beliau menemukan penggalan-penggalan kayu berpahat, berhala-berhala yang tak  bernyawa.  Ia  ingat  akan  banyaknya makanan yang biasa dibawa oleh para penyembah berhala ke kuil mereka sebagai   sajian  untuk  beroleh  rahmat.  Beliau  lalu mengambil  sepiring  roti  yang  ada  di  situ.  Sambil mengunjukkannya   kepada  berhala-berhala  itu,  beliau berkata mengejek,  “Mengapa  tidak  kamu  makan  segala macam  makanan ini?” Tentulah tuhan buatan kaum musyrik itu tak mampu bergerak  sedikit  pun,  apalagi  memakan sesuatu. Keheningan membisu menguasai kuil berhala yang luas itu,  yang  hanya  terpecah  oleh  pukulan-pukulan keras    Ibrahim   pada   tangan,   kaki,   dan   tubuh berhala-berhala itu.  Ia  menghancurkan  semua  berhala itu,  hingga menjadi tumpukan puing kayu dan logam yang berhamburan di tengah kuil itu. Tetapi,  ia  membiarkan berhala  yang  paling  besar,  lalu meletakkan kapak di bahunya. Ini dilakukannya dengan sengaja. Ia tahu bahwa ketika  kembali  dari hutan, kaum musyrik akan memahami kedudukan sesungguhnya dan akan memandang situasi  yang nampak itu sebagai sengaja dibuat-buat, karena tak akan mungkin    mereka    percaya     bahwa     penghancuran berhala-berhala  lain  itu telah dilakukan oleh berhala besar yang sama sekali tak berdaya untuk bergerak  atau melakukan  sesuatu.  Pada  saat  itu,  beliau  pun akan menggunakan situasi itu untuk  dakwah.  Mereka  sendiri akan  mengaku  bahwa  berhala  itu  sama  sekali  tidak mempunyai kekuatan.  Maka  bagaimana  mungkin  ia  akan menjadi penguasa dunia?
 
Matahari  bergerak  turun  di  cakrawala.  Orang  mulai pulang  berkelompok-kelompok  ke  kota.   Waktu   untuk melaksanakan  upacara  pemujaan  berhala  pun tiba, dan sekelompok penyembah berhala memasuki kuil. Pemandangan yang   tak   terduga,  yang  dengan  jelas  menunjukkan nistanya    dan    rendahnya    tuhan-tuhan     mereka, menghentakkan   mereka   semua.   Hening  seperti  maut meliputi kuil itu. Setiap orang gelisah. Tetapi,  salah seorang  di  antara  mereka memecahkan kesunyian dengan berkata, “Siapa yang telah  melakukan  kejahatan  ini?”
Kutukan  terhadap  berhala  oleh Ibrahim di waktu lalu, dan kecamannya yang terang-terangan  terhadap  pemujaan  berhala,  meyakinkan  mereka  bahwa  hanya  dialah yang mungkin melakukan  semua  itu.  Sidang  pengadilan  pun diadakan  di  bawah  pengawasan  Namrud,  dan si remaja Ibrahim serta ibunya dibawa ke pengadilan.
 
Si ibu dituduh  menyembunyikan  kelahiran  anaknya  dan tidak melaporkannya ke kantor khusus pemerintahan untuk dibunuh. Ia memberikan jawaban atas tuduhan itu,  “Saya menyimpulkan  bahwa  sebagai  akibat keputusan terakhir pemerintah  waktu  itu  -yakni  pembunuhan   anak-anak- manusia  di  negara  ini sedang dimusnahkan. Saya tidak memberitahukan kepada kantor pemerintah  tentang  putra saya,  karena  saya hendak melihat bagaimana ia maju di masa depan. Apabila ia membuktikan diri  sebagai  orang yang  telah  diramalkan  para pendeta peramal itu, akan ada alasan bagi saya untuk melaporkannya kepada  polisi agar  mereka  tidak  lagi  menumpahkan  darah anak-anak lain. Dan apabila ia ternyata  bukan  orang  itu,  maka saya  telah  menyelamatkan  seorang  muda di negara ini dari pembunuhan.” Argumen ibu itu sangat memuaskan para hakim.
 
Sekarang  Ibrahim diperiksa. “Keadaan menunjukkan bahwa berhala besar telah melakukan semua  pukulan  itu.  Dan apabila  berhala  itu  dapat  berkata,  sebaiknya  Anda tanyakan  kepadanya.”  Jawaban   bernada   ejekan   dan penghinaan ini dimaksudkan untuk mencapai sasaran lain. Ibrahim  yakin  bahwa  orang-orang  itu  akan  berkata, “Ibrahim!  Engkau tahu sepenuhnya bahwa berhala-berhala itu tak dapat berbicara.  Mereka  pun  tidak  mempunyai kehendak  atau  akal.”  Dalam  hal  itu,  Ibrahim dapat meminta perhatian sidang pengadilan  tentang  satu  hal yang  mendasar. Kebetulan, apa yang terjadi sama dengan yang  diharapkannya.   Sehubungan   dengan   pernyataan orang-orang  itu  yang membuktikan kelemahan, kehinaan, dan  tidak  berdayanya  berhala-berhala  itu,   Ibrahim berkata,  “Apabila mereka memang demikian, mengapa kamu menyembah dan berdoa kepada  mereka  untuk  mengabulkan permohonan kamu?”
 
Kejahilan, keras kepala, dan peniruan membuta menguasai hati dan pikiran para hakim. Terhadap  jawaban  Ibrahim yang  tak  terbantah  itu, mereka tidak beroleh pilihan lain kecuali memberikan keputusan  yang  sesuai  dengan keinginan  pemerintah  masa  itu. Ibrahim harus dibakar hidup-hidup.
 
Setumpukan besar  kayu  bakar  dinyalakan,  dan  jawara tauhid  itu  dilemparkan  ke  dalam  api yang berkobar. Namun, Allah Yang Mahkuasa mengulurkan tangan kasih dan rahmat-Nya  kepada  Ibrahim  dan  menjadikanNya  kebal. Allah mengubah neraka buatan manusia itu menjadi  taman hijau yang sejuk.
                        
———————————
oleh Ja’far Subhani, hal. 50 – 69
Judul buku: AR-RISALAH
Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: