Tinjauan Al-Wala wal Baro dalam membantu orang kafir

Membantu Orang Kafir, Tinjauan Al-Wala wal Baro’
(Loyalitas dan Anti Loyalitas)
Al Wala’ atau al muwalatu

Artinya mencintai, menolong, mempercayai atau teman dekat. Al bara’ atau al mu’adatu artinya menjauhi, membenci dan memusuhi. Al Wala’ dan Al Bara’ merupakan ajaran pokok dalam aqidah Islam. Menjadikan orang-orang kafir sebagai musuh (bara’) dan menjadikan orang-orang mukmin sebagai kawan (wala’) merupakan ciri orang beriman. Ketika sifat ini tidak ada, keimanan hilang dan seseorang telah keluar dari Islam alias murtad.

Rasulullah r bersabda :

” Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [HR. Ahmad dan Al Hakim, Silsilah Ahadits Shahihah no. 1728].

Syaikh Hamad bin ‘Atiq dalam bukunya An Najatu wal Fikaku Min Muwalatil Murtadien wa Ahlil Isyrak mengatakan,” Adapun perihal memusuhi orang-orang kafir dan musyrik, maka ketahuilah sesungguhnya Allah telah mewajibkan hal itu dan menekankan kewajiban ini dan Allah mengharamkan berwali kepada mereka dan menegaskan keharamannya. Sehingga dalam Kitabullah tidak ada hukum yang lebih banyak dalilnya dan lebih gamblang penjelasannya setelah wajibnya tauhid dan haramnya syirik melebihi masalah ini.” [Nawaqidhul Iman al Qauliyah wal ‘Amaliayah hal. 359]. Jadi, masalah terpenting setelah tauhid adalah wala’ dan bara’ ini.

HUKUM MEMBANTU ORANG KAFIR MELAWAN UMAT ISLAM

Hari ini, aqidah wala’ dan bara’ yang agung ini sudah banyak dilanggar umat Islam, baik secara sengaja maupun karena ketidak tahuan. Peristwa hari-hari ini bisa menjadi contoh paling kongkrit dan aktual.

Ketika AS dibantu sekutu-sekutunya melakukan invasi dan agresi militer ke Afghanistan, mestinya pemerintahan negara-negara berpenduduk muslim mengulurkan tangan membela Afghanistan. Namun kenyataannya, mereka justru mendukung invasi AS untuk mendapatkan keuntungan politis, ekonomi maupuan militer dari AS. Dukungan mereka berupa dukungan “memerangi teroris”, dukungan ide, logistik, pangkalan militer, pasukan reguler, tidak mengutuk, menolak pemutusan hubungan diplomasi dan lain sebagainya.

Padahal secara tegas presiden George W. Bush sendiri menyebut serangan ini sebagai Crusade, perang Salib. Artinya perang Kristen internasional melawan umat Islam. Dalam Islam, jihad Afghan yang diserang adalah jihad difa’i (jihad defensif) yang seluruh ulama sejak zaman dulu sampai hari kiamat nanti sepakat hukumnya fardhu ‘ain bagi penduduk yang diserang seperti wajibnya sholat dan shoum Ramadhan. Bila penduduk Afghan belum mampu mengusir musuh, maka kewajiban mengusir musuh meluas terus mengenai penduduk negeri-negeri terdekat, begitu seterusnya sampai kewajiban mengusir musuh mengenai seluruh umat Islam di muka bumi, bila musuh tidak bisa diusir kecuali dengan keterlibatan seluruh umat Islam di muka bumi. [lihat Ad Difaa’ An ‘Aradhil Muslimin hal. 10-16, Ilhaq bil Qafilah hal. 35-37].

Sebagai bentuk wala’ kepada kaum muslimin Afghanistan, seluruh umat Islam di muka bumi hari ini dituntut untuk membantu mereka sesuai dengan kemampuan yang disanggupinya. Lewat media masa yang menyuarakan pembelaan, dana kemanusiaan untuk kaum muhajirin, bantuan militer untuk mujahidin, tekanan kepada AS dan sekutunya lewat jalur diplomasi politik, boikot produk AS dan sekutunya serta berbagai bantuan yang mungkin lainnya.

Sebagai bentuk bara’, umat Islam haram hukumnya memberi bantuan apapun kepada AS, Inggris, NATO dan sekutunya dalam menyerang Afghan. Karena itu, para ulama Islam internasional memfatwakan keharaman mendukung AS dan sekutunya dalam memerangi Afghanistan. Fatwa datang dari Syaikh Universitas Al Azhar, Dr. Muhammad Sayid Thanthawi dan mufti Mesir Dr.Faridh Washil, juga dari Majelis Ulama Pakistan, mufti Kuwait, mufti Qatar dan mufti Saudi Arabia. MUI dan puluhan ormas Islam juga ikut mengeluarkan pernyataan sikap mengutuk serangan AS dan sekutunya.

DASAR HUKUM KEHARAMAN

Syaikh Sulaiman bin Abdullah Bin Muhammad pengarang buku Taisirul Azizil Hamid Syarhu Kitabit Tauhid, dalam risalah beliau yang berjudul Hukmu Muwalati Ahli Syirki menyebutkan 21 dalil dari Al Qur’an dan As Sunah yang menegaskan keharaman membantu negara dan orang kafir memusuhi umat Islam. Di antara dalil-dalil tersebut adalah :

1. Firman Allah I

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin kalian….[QS. Al Maidah :51].

Imam Ath Thabari ketika menafsirkan ayat ini berkata,” Siapa menjadikan mereka sebagai (wali) pemimpin dan sekutu dan membantu mereka dalam melawan kaum muslimin, maka ia adalah orang yang sedien dan semilah dengan mereka. Karena tak ada seorangpun yang menjadikan orang lain sebagai walinya kecuali ia ridho dengan diri orang itu, diennya, dan kondisinya. Bila ia telah ridho dengan diri dan dien walinya itu, berarti ia telah memusuhi dan membenci lawannya, sehingga hukumnya (kedudukan dia) adalah (seperti) hukum walinya.” [Tafsir Ath Thabari 6/160].

Penjelasan Imam Ath Thabari ini juga ditegaskan lagi oleh para ahli tafsir lain seperti Imam Al Qurthubi (Al Jami’ liahkamil Qur’an 6/217), Asy Syaukani (Fathul Qadir 2/50), Al Qasimi (Mahasinu Ta’wil 6/240) dan Ibnu Hazm (Al Muhala 13/35) , juga disebutkan oleh Dr. Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali Abdulathif dalam disertasinya, Nawaqidhul Iman Al Qauliyah wal ‘Amaliyah, sebagai pembatal keimanan dan penyebab kemurtadan.

2. Firman Allah I

” Kamu melihat orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit (kemunafikan) bersegera mendekati orang-orag (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata,” Kami takut akan mendapat bencana (krisis).” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan kepada Rasul-Nya atau suatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu orang-orang yang berpenyakit hati akan menyesal terhadap apa yanag mereka arahasiakan dalam diri mereka.” [QS. Al Maidah :52].

Syaikh Sulaiman bin Abdullah berkata,” Allah menyebutkan bahwa berwala’ (loyal) kepada orang-orang kafir meniadakan iman kepada Allah, Rasul-Nya dan kitab yang ditrunkan kepadanya. Allah lalu menyebutkan sebab hal itu adalah karena banyak di antara mereka yang fasiq. Allah tidak membedakan antara yang takut kepada bencana maupun tidak. Demikianlah kondisi orang-orang murtad tadi sebelum mereka murtad, kebanyakan mereka yang fasiq, maka kefasikan mereka menyeret kepada berwala’ kepada orang-orang kafir dan murtad dari Islam. Naudzu Billahi min dzalika.’ [Risalah Hukmu Muwalatil Ahlil Isyrak, dalam Al Jami’ Al Farid hal. 426].

3. Firman Allah I

” Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara atau kerabat mereka sendiri..” [QS. Al Mujadalah 22].

Syaikh Sulaiman bin Abdullah berkata,” Allah mengkhabarkan bahwa engkau tak akan mendapati orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir itu mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun ia kerabat terdekatnya, dan Allah menerangkan bahwa sikap mencintai musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya ini meniadakan iman. Sikap ini tak mungkin berkumpul dengan iman kecuali seperti berkumpulnya air dengan api.” [Nawaqidhul Iman Al Qauliyah wal ‘Amaliyah hal. 387].

4. Firman Allah I

” Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya ia terlepas dari pertolongan Allah ….” [QS. Ali Imran :28].

Imam Ath Thabari berkata,” Barang siapa berbuat demikian, niscaya ia terlepas dari pertolongan Allah ” maknanya ia telah berlepas diri dari Allah dan Allah berlepas diri darinya karena ia telah murtad dari diennya dan masuk ke dalam kekufuran.”[Tafsir Ath Thabari 6/228].

5. Firman Allah dalam [QS. An Nahl :106-107].

Ketika seorang muslim dipaksa untuk kafir melalui berbagai siksaan keras seperti yang dialami shahabat Amar bin Yasir, lalu ia menuruti kemauan mereka dengan mengucapkan kalimat kekufuran secara lisan namun hatinya tetap beriman, maka ia tidak kafir dan ia diampuni Allah. Namun apabila hal itu dikerjakan secara sukarela tanpa ada paksaan maka ia kafir.

Syaikh Sulaiman bin Abdullah berkata,” Allah menetapkan hukum yang tak akan berubah bahwa orang yang kembali kepada kekufuran (murtad) berarti telah kafir, baik ia punya udzur —seperti takut atas nyawa atau harta atau keluarga-atau tidak punya udzur. Sama saja apakah ia kafir dari batinnya atau kafir dari lahirnya saja tanpa batinnya. Sama saja apakah ia kafir dari perbuatan dan pekataan atau dengan salah satu dari keduanya. Sama saja apakah ia mengharapkan keuntungan duniawi dari orang musyrik atau tidak. Ia tetap kafir apapun keadaannya, kecuali orang yang dipaksa. Jika seseorang dipaksa untuk kafir dengan dikatakan kepadanya,” Kafirlah, kalau tidak kamu kami siksa atau kami bunuh,” atau orang-orang musyrik mengambilnya dan menyiksanya dan ia tak mungkin bisa selamat kecuali dengan menuruti perintah mereka, maka boleh baginya untuk menuruti secara dhahir saja dengan syarat hatinaya tetap mantap beriman, maksudnya tetap kokoh dengan keyakinan dan imannya. Adapun jika ia menuruti mereka dalam hatinya, maka ia tetap kafir sekalipun dipaksa.” [Risalatu Hukmu Muwalati Ahlil Isyrak dalam Al Jami’ al Farid hal. 428].

Beliau meneruskan,” Allah lalu menerangkan bahwa sebab kafirnya mereka bukan karena mereka berkeyakinan syirik atau tak mengetahui tauhid atau membenci agama atau mencintai kekafiran, namun sebabnya adalah karena (mencari) keuntungan duniawi lalu mengutamakan keuntungan duniawi atas agama dan ridho Rab semesta Alam.” [Risalatu Hukmu Muwalati Ahlil Isyrak dalam Al Jami’ al Farid hal. 428]..

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan pembatal keislaman yang kedelapan adalah membantu dan tolong menoolong dengan orang-orang kafir dalam memusuhi umat Islam, dengan dalil QS. Al Maidah :51. [Ad Durarru As Sunniyah 8/90, dinukil dari Al Wala’ wal Bara’ hal. 77].

Syaikh Shalih Fauzan berkata,”Membantu dan saling menolong dengan orang kafir dalam memusuhi orang Islam, memuji dan membela orang kafir. Ini adalah salah satu pembatal keislaman dan penyebab kemrtadan. Naudzu Billahi min Dzalika.” [Al Wala’ wal Bara’ fil Islam hal. 9]. Hal ini juga ditegaskan Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam buku beliau, Aqidah Shahihah versus Aqidah Bathilah dan pembatal-pembatal Islam.

PENUTUP

Dari sini jelas, alasan akan mendapatkan keuntungan ekonomi, politik dan militer sebagaimana diperoleh oleh pemerintah Indonesia, Pakistan dan negara-negara Teluk sama sekali tidak menjadi alasan yang dibenarkan agama. Pelakunya tetap keluar dari Islam, apalagi bukan karena paksaan namun pilihan sendiri dan sukarela. Sikap pemerintahan negara-negara yang membeo dan pro dengan intervensi dan agresi militer AS ini jelas-jelas membatalkan keislaman. Mereka sudah tak memahami dan meyakini Allah sebagai Ash Shamad (Tempat Bergantung seluruh makhluk). Mereka bertawakal kepada AS yang mempunyai dana dan militer terkuat di dunia hari ini dan tak meyakini Allahlah pemberi rizki sebenarnya. Dengan sedikit keuntungan politis, ekonomis dan militer, iman digadaikan begitu saja. Naudzu Billahi min Dzalik.

Refferensi :

1. Al Jami’ Al Farid’ : beberapa ulama dakwah.

2. Nawaqidhul Iman Al Qauliyah wal ‘Amaliayah: Dr. Abdul Azizi bin Muhammad bin Ali Alu Abdul Lathif.

3. Al Muwalatu wal Mu’adatu Fi Syari’ah al Islamiyah : Mahmas bin Muhammad bin Abdullah Alu Jal’ud.

4. Al Wala’ Wal Bara’ fil Islam : Dr. Sholih Fauzan.

5. Al Wala’ Wal Bara’ fil Islam : Dr. Muhammad Sa’id al Qahthani.

Sumber: http://www.oocities.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: