Mural “Say No To Burqa” Bukan Anti-Islam?

Mural “Say No To Burqa” Bukan Anti-Islam?

CANBERRA  – Menyusul lukisan seniman Sergio Redegalli yang menentang cadar dengan slogan “Say no to burqas”, keamanan di luar lokasi telah dipanggil setelah ketegangan mengancam akan kembali meningkat.

Polisi juga mendatangi unit di Wilford dan Statio setelah seorang warga perempuan diduga mencaci maki lukisan itu dan berusaha merusaknya dengan cat.

Petugas keamanan Nathan Daniels, dipanggil oleh Redegalli untuk melindungi karyanya, mengatakan bahwa ada banyak cacian yang hampir semua berasal dari kaum wanita.

“Masalah datang terutama dari kaum feminis yang menyebutnya rasis dan seksis. Ada satu wanita yang mencaci maki seniman itu, meneriaki dan menyumpahinya serta membuat ancaman untuk membalas dirinya, jadi kami harus memanggil polisi,” ujar Daniels.

“Masalahnya adalah Redegalli berusaha menyampaikan pesan bahwa dengan wanita mengenakan burqa identitas mereka terhapus. Seorang polisi mengatakan pada saya bahwa pakaian itu menimbulkan masalah praktis bagi mereka, seperti mengidentifikasi orang,” tambahnya.

Seorang penduduk, yang tidak mau disebut namanya, mengatakan, “Saya hanya seorang pensiunan tapi saya ingin memberi pria itu 50 dolar karena melakukan ini.”

“Orang-orang ini datang ke negara kami jadi setidaknya yang bisa mereka lakukan adalah berusaha berintegrasi sedikit. Saya tidak mau menyebutkan nama karena saya takut akan keselamatan keluarga dan teman-teman saya. Semua orang takut pada mereka.”

Redegalli mengatakan lukisan itu adalah seruan melawan pertumbuhan ekstrimisme di Australia dan bukan anti-Islam.

“Ini tentang burqa dan ekstrimisme, bukan Islam. Mural ini datang dari rasa frustrasi,” ujarnya. “Kau tidak bisa mengatakan apapun tentang Muslim tanpa terkena masalah.”

Lukisan yang menghadap ke salah satu koridor tersibuk di CityRail, telah dirusak dua kali sejak lukisan itu dimulai pada hari Senin (20/9).

Walikota Marrickville, Sam Iskandar, mengatakan dirinya mengecam lukisan itu tapi dewan kota tidak punya hak untuk menghapusnya.

Presiden Jaringan Nasional Wanita Muslim, Aziza Abdel Halim, mengatakan lukisan itu tidak sopan, menghina, dan cara yang tidak dewasa untuk memulai perdebatan.

“Saya rasa Redegalli tidak pantas untuk dipikirkan,” ujarnya.

“Memakai burqa adalah pilihan pribadi.”

Sebuah seruan untuk larangan memakai burqa di tempat umum yang kontroversial telah memecah opini dan menimbulkan kemarahan dari komunitas Muslim yang menyebutnya sebagai aksi politik.

Senator Liberal Cory Bernardi memicu kemarahan setelah dia menyerukan dilarangnya burqa menyusul sebuah perampokan di toko Sydney oleh seorang pria yang memakai burqa.

Menulis di blog pribadinya, senator itu mengatakan burqa telah dipilih untuk menjadi alat penyamaran oleh para penjahat. Karena itu dia ingin burqa dilarang, selain itu pakaian relijius tersebut dianggapnya menghalangi kaum wanita berinteraksi dalam kehidupan normal sehari-hari. “Burqa mengisolasi sejumlah warga Australia dari warga lainnya,” tulis Bernardi.

“Tidak bersifat Australia dan penghalang simboliknya lebih besar daripada ukuran kain yang menjadi bahan pembuatnya. Untuk keamanan dan untuk masyarakat, burqa harus dilarang.”

Namun, direktur Assisting Shift in Multicultural Australia, yang seorang Muslim, mengatakan terlalu sederhana untuk mengatakan bahwa burqa tidak cocok dalam masyarakat Australia.

“Untuk mengatakannya tidak cocok dengan cara hidup dan kebudayaan kita menutup pintu bagi wanita Muslim untuk menjadi anggota aktif masyarakat,” ujarnya.

Kelompok-kelompok Islam lainnya menepis seruan itu sebagai aksi politik yang bertujuan untuk memanfaatkan sentimen anti-Islam.

Komentar Senator Bernardi itu didukung oleh pakar keamanan tapi pemimpin oposisi Tony Abbott mengatakan sementara ada kekhawatiran yang bisa dipahami di dalam masyarakat tentang orang-orang yang memakai burqa, sebuah larangan bukan kebijakan Koalisi.

Islamic Friendship Association Keysar Trad menolak seruan itu sebagai ketidaktahuan dan aksi politik.

Memakai burqa sebenarnya mendorong kaum wanita untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Australia, sementara larangan hanya akan mendorong mereka berdiam di dalam rumah.

“Ini sama saja dengan menolak hak mereka untuk menyetir, menikmati semua layanan masyarakat dan kesempatan yang sama,” ujar Trad. (rin/iw/dt/ns)www.suaramedia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: