Aksi merampok untuk jihad

Aksi merampok untuk jihad, alias menjadikan harta hasil rampokan sebagai
harta fa’i, belakangan ini ramai diperbincangkan. Tidak hanya aparat
keamanan yang ikut sibuk membahas dan menerangkan istilah fa’i,
berbagai kalangan dan aktivis harakah Islam juga urun rembuk
membahasnya. Ada yang pro ada yang kontra. Berikut artikel yang
membahas harta fa’i  perspektif Al Qaeda dan para pendukungnya.

Kita telah sama-sama mendengar adanya informasi dari media-media
fasik nan kufur bahwa telah terjadi perampokan dengan motif mencari
dana untuk membiayai aksi teror (jihad). Opini sengaja dibentuk
sedemikian rupa sehingga menjadikan citra buruk bagi para Mujahid. Pada
kesempatan ini kita akan membahas bagaimana kedudukan merampok
(mengambil fa’i) untuk membiayai jihad dengan asumsi jika benar pelaku
perampokkan adalah Mujahidin yang ingin mengikuti jejak Tanzhim
Qoidatul Jihad (Al Qaeda) dalam melancarkan aksi jihad.

Sebelum kita membahas asumsi bahwa pelakunya adalah Mujahidin, tidak
ada salahnya kita menengok sejenak teori konspirasi dalam kasus ini,
mengingat masih hangat perbincangan seputar rangkaian kasus Aceh yang
sarat dengan konspirasi bersamaan munculnya sosok kontroversial Sofyan
Tsauri. Untuk kasus perampokan ini ada beberapa analisa diantaranya,

1.Kasus tersebut adalah buatan aparat pemerintah dalam hal ini
gabungan TNI/POLRI dengan institusi nasional antiteror yang dipimpin
Ansyad Embay, kepentingan mereka membuat kasus ini adalah untuk
membentuk opini sedemikian rupa di masyarakat akan bahayanya para
“teroris” yang semakin hari semakin menjadi, padahal Densus 88 sudah
bekerja keras menangkapi bahkan membunuhi mereka yang diduga “teroris”
sampai yang tidak jelas identitasnya pun dibunuh (seperti dua orang
korban penembakan cawang) sehingga mereka mempunyai alasan kuat dan
berharap dukungan masyarakat yang telah dibuat ketakutan oleh mereka
untuk kembali memberlakukan sejenis UU subversi seperti pada masa Orba,
namun itu khusus berlaku bagi gerakan Islam yang berpotensi memusuhi
negara sementara gerakan ideologi lain seperti komunis tidak perlu
diberlakukan UU tersebut karena faktanya aktivis-aktivis berpaham
komunis dibiarkan berkeliaran menyebarkan pahamnya di kampus maupun
masyarakat dengan kedok LSM-LSM sosial. Hal ini terlihat melalui
statement-statement Ansyad Embay sebagai komandan antiteror nasional
yang provokatif mengarahkan untuk kembali memberlakukan UU sejenis
subversi pada masa Orba dimulai dengan mengawasi masjid-masjid yang
dianggap tempat perekrutan para “teroris”, disamping itu TVone sebagai
“TV Polisi” juga tidak kalah membentuk opini serupa dengan mewawancara
Sudomo mantan Pangkopkamtib pada masa Orba dalam rangka membeberkan
“kesuksesannya” menjaga keamanan NKRI.

2.Kasus itu adalah buatan TNI karena merasa dianaktirikan dalam
upaya penanggulangan teror di Indonesia, sementara POLRI bagaikan
pahlawan terdepan dalam memerangi terorisme, tentu juga ditambah dengan
dana jutaan dolar yang didapat POLRI dari AS dan sekutunya. Hal ini
menyebabkan TNI perlu membentuk opini bahwa POLRI belum cukup untuk
menanggulangi teror dengan membuat kasus tersebut sehingga kelak TNI
akan dilibatkan. Benang merah bisa kita lihat dengan digelarnya latihan
gabungan antiteror Kopassus dengan pasukan elit Australia di Bali
baru-baru ini. Perlu juga diingat bahwa dua institusi ini (TNI/POLRI)
memiliki track record seperti Tom & Jerry yang sampai hari ini
belum ada kata damai permanen diantara keduanya.  

3.Kasus ini buatan POLRI sendiri dalam rangka memelihara sosok
mengerikan yang bernama teroris agar proyek POLRI ini terus mendapat
kucuran dana dari AS dan sekutunya, salah satu yang menguatkan analisa
ini adalah POLRI dalam waktu singkat langsung memiliki foto dengan
gambar yang cukup fokus sangat tidak mungkin hanya diambil dari CCTV
karena gambarnya cukup jernih dan dari beberapa sisi dengan asumsi
jarak pengambilan foto lebih kurang 15-20 meter dari lokasi kejadian,
siapa yang mengambil foto dengan sangat bagus itu ? Bisa jadi itu
adalah adegan narsis-nya polisi yang berlagak sebagai perampok minta
difoto oleh temannya sendiri.

Tiga analisa diatas cukup mewakili para penganut madzhab konspirasi
disamping banyak analisa-analisa lain seputar kasus ini. Namun tidak
adil selalu memandang kasus dari kacamata ini karena seakan menunjukkan
bahwa kita mengakui bola pertarungan selalu berada di tangan musuh yang
membuat mereka bebas memainkannya. Sekarang kita kembali kepada asumsi
awal yaitu jika pelakunya adalah Mujahidin.

Akar Pemahaman Munculnya Aksi Perampokan (Mengambil Fa’i)

Dari beberapa kasus amaliyah jihadiyah di negri ini, mulai
pengeboman, pelatihan militer sampai perampokan dalam rangka mengambil
fa’i selalu memunculkan dikotomi awal yaitu yang memandang negara ini
adalah daerah konflik (daerah dimana ada batasan jelas antara siapa
kawan siapa lawan) dan daerah nonkonflik. Mereka yang gencar
melakasanakan amaliyah jihadiyah mengatakan bahwa Indonesia adalah
daerah konflik mengacu kepada ijtihad perang global yang dilancarkan Al
Qaeda karenanya wajib melaksanakan amaliyah jihadiyah mengingat pula
hukum jihad telah menjadi fardhu’ain hari ini.

Pihak yang berpendapat Indonesia bukan daerah konflik mengatakan
bahwa Indonesia belum saatnya melaksanakan amaliyah jihadiyah dengan
mengamati realitas situasi dan kondisi Indonesia tanpa menolak adanya
fatwa Al Qaeda dan konsep umum bahwa jihad telah menjadi fardhu’ain
dengan dijajahnya negri-negri kaum Muslimin oleh kaum kuffar berikut
antek-anteknya dari penguasa lokal. Titik masalahnya adalah hanya
persoalan waktu dan kondisi yang tepat serta terukur untuk
medeklarasikan jihad melawan thaghut internasional maupun thaghut
nasional dalam rangka Iqomatuddin.

Ketika terjadi perbedaan ini maka konsekuensi berikutnya dalam
memandang suatu hukum terkait persoalan jihad pun akan berbeda termasuk
mengambil fa’i. Bagi mereka yang memandang Indonesia termasuk daerah
konflik maka jelas mengambil fa’i tidak diragukan kehalalannya,
sementara bagi yang memandang Indonesia bukan daerah konflik maka
mengambil fa’i perlu ditinjau ulang (walaupun pengambilan fa’i tidak
disyaratkan harus dalam kondisi terjadinya perang) mengingat di
Indonesia terdapat kemungkinan tercampurnya harta orang mukmin dan
orang kafir di lembaga-lembaga usaha seperti Bank dan lain-lain,
kemudian fakta di Indonesia masih terus berjalan proses tarbiyah kepada
umat dalam mengenalkan Islam yang kaffah setelah umat dibuat apriori
selama 32 tahun tentang wacana syari’at Islam, tentunya pada tahapan
ini kita perlu mempertimbangkan mudharat yang dapat menggangu proses
tarbiyah ini dengan munculnya aksi pengambilan fa’i dimana umat Islam
masih banyak yang belum memahami persoalan fa’i kemudian akhirnya musuh
Islam pun dapat celah untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap
gerakan Islam, konsekuensinya proses tarbiyah semakin berat dengan
bertambahnya syubhat besar di tengah umat.

Halalnya Mengambil Fa’i Dalam Islam

Fa’i secara bahasa mengandung makna mengembalikan atau mengumpulkan.
Secara syar’i bermakna segala apa yang dirampas dari orang kafir tanpa
melalui perang seperti harta yang ditinggal lari oleh orang kafir
karena ketakutan, termasuk harta ahli dzimmah yang tidak memiiliki ahli
waris. (Al Jihadu Sabiluna, Abdul Baqi’ Ramdhun)

Dalam konteks ini maka harta orang kafir diluar kafir dizimmi (kafir
yang tunduk kepada pemerintah Islam dan membayar jizyah), kafir
musta’man (kafir yang dapat jaminan keamanan), kafir mu’ahad (kafir
yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin) menjadi halal untuk
diambil sebagai fa’i dengan tetap memperhatikan batasan-batasan syar’i
(disini tidak cukup untuk membahasnya lebih detail)

Diantara dalilnya adalah,

وَمَا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ
عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ
عَلَى مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 

  مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ
وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ
السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا
آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan apa saja harta rampasan (fai-i)
yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka
untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak
pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada
RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan
Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk
kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya
harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara
kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”

( Al Hasyr 6 -7)

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa
alokasi fa’i adalah untuk kemashlahatan kaum Muslimin termasuk di
dalamnya jihad yang merupakan sarana untuk memperoleh kemashlahat kaum
Muslimin dari rongrongan musuh-musuhnya.Tentunya berdasarkan konteks
ini pertimbangan mashlahat dan mudharat menjadi penting untuk
diperhatikan.

Diantara Dalil Para Mujahidin Lokal Dalam Melancarkan Perampokan

Dalil yang cukup kuat sebagai dasar oleh Mujahidin (sekali lagi
kalau benar pelakunya mereka) dalam melakukan aksi perampokkan adalah
kisah Abu Basyir dan Abu Jandal serta tim mereka Radhiallahu’anhum
Ajma’in, ketika mereka tidak dapat memasuki Madinah pasca perjanjian
Hudaibiyah mereka akhirnya membuat camp di dekat pantai, kemudian
setiap orang yang lari dari Mekkah bergabung dengan mereka dengan sebab
tidak dapat masuk Madinah. Selama mereka mendiami tempat itu tidak ada
satu pun orang musyrikin Quraisy yang melewati tempat itu melainkan
mereka bunuh dan rampas hartanya, hingga kemudian Rasulullah
Shalallahu’alaihi Wasallam mengizinkan mereka masuk Madinah atas
keluhan orang musyrik Quraisy karena keamanan mereka terancam. (Shahih
Bukhari I/378-381, Shahih Muslim II/140,105-106, Sirah Ibnu Hisyam
II/308-322, Zadul Ma’ad II/122-127)

Dalam Kisah tersebut bukan berarti dihalalkan mengingkari perjanjian
dengan orang kafir karena Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam tetap
tidak mengizinkan Abu Basyir Radhiallahu’anhu di Madinah, dengan
mengatakan “Celaka, ia bisa menjadi pemicu peperangan bila mempunyai satu teman lagi”
ketika salah seorang Quraisy yang menangkap Abu Basyir mengadu kepada
Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam karena temannya telah dibunuh oleh Abu
Basyir, maka Abu Basyir Radhiallahu’anhu sadar bahwa Nabi
Shalallahu’alaihi Wasallam tetap tidak mengizinkannya masuk Madinah
dengan kalimat tersebut, dengan kata lain Abu Basyir diluar tanggung
jawab Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam, bahkan sebaliknya itu merupakan
tanggungjawab musyirikin Mekkah untuk menangkapnya bila mampu. Dari
kalimat Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam di atas pun dapat kita
ambil nilai penting yaitu setiap model aksi (seperti yang dilakukan Abu
Basyir Radhiallahu’anhu) perlu melihat pertimbangan politis jangan
sampai memicu peperangan yang bisa jadi dalam suatu kondisi merugikan
kaum Muslimin secara umum.

Berkaitan dengan kasus perampokan Bank di negri ini, penggunaan
kisah Abu Basyir Radhiallahu’anhu sebagai dalil perlu penelitian ulang
mengingat kondisi Abu Basyir Radhiallahu’anhu sebagai bagian dari kaum
Muslimin ketika itu jelas memandang musyrikin Quraisy sebagai musuh
sesuai fakta bahwa telah terjadi dua peperangan besar (Badar dan Uhud)
sebelumnya antara kaum Muslimin dan musyrikin Quraisy, adapun dalam
konteks realitas Indonesia, menyimpulkan bahwa Bank khususnya CIMB
Niaga sebagai bagian dari musuh merupakan kesimpulan yang terlalu dini.

Pandangan Al Qaeda Dalam Masalah Fa’i

Sebuah realitas yang sulit dibantah bahwa ujung tombak gerakan Islam
internasional yang konsern dalam masalah jihad dan menjadi inspirasi
berbagai macam gerakan jihadi di berbagi negri adalah Al Qaeda, pun
demikian di Indonesia berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dari
publikasi-publikasi Mujahidin lokal seputar inspirasi perlawanan mereka
yang berasal dari Tanzhim Qo’idatul Jihad (Al Qaeda). Berdasarkan fakta
ini, perlu kiranya kita melihat bagaimana cara pandang salah seorang
anasirnya yang cukup mewakili pemikiran Al Qaeda yaitu Qodatul
Mujahidin Asy Syaikh Abu Mus’ab As Sury Fakkallahu Asroh dalam kitabnya
yang fenomenal Da’watul Muqowwama Al ‘Alamiyah Al Islamiyah, berikut
kutipannya,

Sebelumnya telah kami sebutkan Bab tentang hukum-hukum jihad secara
syar’i di Bab ketiga, yaitu Bab Pendidikan Yang Sempurna Bagi Seorang
Mujahid. Oleh karena itu, di sini kami singgung sedikit tanpa harus
merinci kembali. Kami katakan, Hukum-hukum jihad ini disandarkan kepada
fakta syar’i yang sekarang terjadi di negeri-negeri Muslim,
penjelasannya juga sudah dibahas pada pasal kedua yaitu pasal Hukum
Syar’i Yang Berlaku Pada Realita Kaum Muslimin Hari ini.

Intinya: pemerintahan-pemerintahan yang sekarang tegak di
negara-negara Arab dan Islam hari ini statusnya adalah pemerintahan
yang tidak syar’i dan gugur disebabkan murtadnya para penguasa tersebut
yang loyal kepada orang-orang kafir, berhukum kepada selain yang Alloh
turunkan, membuat syariat (undang-undang) yang menyelisihi syariat
Alloh, serta sebab-sebab lain yang semakin menguatkan status hukum ini.

Atas dasar itu, disimpulkan mengenai beberapa hukum:

1.Halalnya harta pemerintahan yang murtad dan aset-aset umum yang mereka miliki, serta aset-aset para tokohnya.

2.Halalnya harta semua orang kafir asing yang ada di negri kaum
Muslimin, sebab jaminan keamanan mereka gugur (tidak berlaku secara
syar’i) seiring dengan gugurnya keabsahan pemerintahan yang ada secara
syar’i sehingga pemerintah ini tidak berhak memberi jaminan keamanan
dan perlindungan, atau menjalin ikatan perjanjian dan kesepakatan
dengan orang-orang kafir.

3.Halalnya harta semua non-muslim yang tinggal di negeri kaum Muslimin, dengan sebab yang sama dengan point sebelumnya.

4.Halalnya harta orang-orang murtad, yaitu mereka yang secara
terang-terangan menyatakan kerja sama mereka dengan tentara pendudukan
serta membantu mereka dalam memusuhi kaum Muslimin.

5.Halalnya harta orang-orang kafir yang tinggal di negara harbiy
(yang memerangi kaum Muslimin), karena status perang antara kita dan
mereka telah tegak, dan tidak adanya perjanjian antara mereka dengan
pihak pemerintahan Islam yang syar’i yang mengharuskan rakyat (kaum
Muslimin) menepati janji tersebut.

Inilah gambaran secara umum.

Untuk keterangan berdasarkan syar’i secara lebih terperinci bisa
dilihat kembali pasal khusus tentang itu, seperti telah disebutkan,
demikian juga penjelasan rinci tentang kepentingan-kepentingan dari segi politis ketika menghindari penyerangan terhadap sebagian target yang semula akan diserang.

Dan di sini saya mengingatkan beberapa hal yang penting:

1.Haramnya (secara tegas) harta dan darah kaum Muslimin di manapun
mereka berada, baik di negeri Muslim atau di negeri kafir, sebesar
apapun kefasikan, kemaksiatan dan kekurangan yang mereka miliki, bahkan
ketika ada keraguan tentang pokok iman (ashlul Iman) yang
mereka miliki sekalipun, sebab keraguan tidak menghilangkan rasa yakin.
Yakin di sini adalah mereka sudah bersyahadat La ilaha illalloh
Muhammad Rosululloh. Oleh karena itu, harus dihindari betul dalam hal
mengenai darah, harta dan kehormatan kaum Muslimin, sebab semua ini
adalah haram dan suci.

2.Siapa yang memiliki hubungan pribadi dengan orang kafir, baik
berupa akad atau pernjanjian untuk memberikan jaminan keamanan, maka ia
tidak boleh membatalkan janjinya, atau jaminan perlindungan dan
keamanannya, baik dia berada di negeri Muslim maupun negeri kafir.
Alloh Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

      “Hai orang-orang yang beriman, tepatilah janji-janji.” (Al-Maidah 1)

 وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً

“…dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggung jawaban.” (Al-Isro’34)

3.Jaminan keamanan para pemimpin Jihad dan kaum Muslimin, jika
mereka berada di daerah kekuasaan orang-orang kafir, maka jaminan itu
harus dihormati. Para anggota juga harus memenuhi jaminan perlindungan
dan keamanan yang diberikan oleh para pemimpin mereka kepada
orang-orang kafir.

4.Yang saya sebutkan ini tadi adalah hukum kehalalan harta orang-orang kafir dan murtad secara syar’i berikut syarat-syaratnya. Adapun
penerapan hukum-hukum ini dan memperlakukan status ghonimah kepada
harta mereka, maka harus dijalankan setelah dilakukan kajian tentang
maslahat dan mafsadah dari sisi politis ketika hendak menyerang suatu
target di suatu lokasi dan di waktu tertentu. Jika ternyata hal itu
mengakibatkan kerusakan nyata terhadap Islam dan kaum Muslimin, maka
operasi penyerangan itu haram dilakukan. Bukan karena pada aslinya
haram, namun karena adanya kerusakan yang ditimbulkan.

Untuk orang yang tidak mengetahui perkiraan-perkiraan seperti ini,
maka ia tidak boleh terjun tanpa ilmu. Tetapi ia harus bertanya kepada
ulama yang ia percaya, yaitu orang-orang yang mengerti hukum-hukum
syar’i dan politik yang benar menurut syar’i, yang keislaman, pemahanan
dan jihadnya bisa dipercaya.

Kemudian Syaikh Abu Mus’ab As Sury berkata,

Kembali ke konteks pembahasan, kami katakan bahwa sumber pendanaan
utama tim-tim perlawanan Islam global setelah dari harta pribadi
mujahidin dan sumbangan-sumbangan tak bersyarat dari muhsinin yang baik, adalah dari ghonimah dan fai yang berasal dari,

1.Harta orang-orang kafir harby yang tinggal di negeri mereka sendiri atau di negeri kita.

2.Harta pemerintah murtad yang bekerja sama dengan pasukan penjajah, dengan tetap berhati-hati jangan sampai tertumpah darah kaum Muslimin yang bekerja di aset-aset mereka tersebut.

3.Orang-orang yang terbukti kemurtadannya, karena memberikan
kesetiaan dan bantuan kepada orang-orang kafir dalam rangka memerangi
kaum Muslimin. Harta orang-orang ini adalah halal, sama dengan status
darahnya. Sebab mereka telah melakukan perbuatan riddah. Selesai kutipan dari Da’watul Muqowwama Al ‘Alamiyah Al Islamiyah.

Dari kutipan di atas jelas terlihat bagaimana pandangan seorang
tokoh Al Qaeda seputar pelaksanaan aksi mengambil fa’i, dimana sekelas
Al Qaeda saja begitu berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam
melancarkan aksi tersebut.

Perlu penelitian yang mendetail jangan sampai ada harta kaum
Muslimin (ahlul kiblat) yang ikut terambil dalam melancarkan aksi atau
bahkan ada orang Muslim yang terbunuh. Terlebih di negri seperti
Indonesia yang mayoritas Muslim secara zhahir maka perlu kehati-hatian
tingkat tinggi mengingat sekalipun PNS (Pegawai Negri Sipil) misalnya
tidak bisa langsung kita vonis murtad dan halal hartanya, begitu pula
Bank yang sangat dimungkinkan tercampurnya harta kaum Muslimin dan
orang kafir meskipun Bank tersebut adalah Bank riba karena riba adalah
kemaksiatan bukan kekufuran yang menyebabkan orang-orang yang
melaksanakannya bisa dihalalkan harta dan darahnya.

Jihad Global Fardhu’ain, Menelisik Maksud Seruan Qodatul Mujahidin Al Qaeda

Pada pembahasan di atas telah disinggung sedikit latarbelakang paham
maraknya amaliyah jihadiyah di Indonesia yaitu seruan jihad global yang
fardhu’ain, sampai kemudian sebagian orang memudahkan diri dalam
mengambil fa’i (merampok orang atau pihak yang dinilai musuh dan kafir)
untuk membiayai jihad yang fardhu’ain ini.

Dalam bagian ini mari kita simak kutipan fatwa Asy Syaikh Abu
Abdurrahman Athiyatullah Al Libbiy Hafizhahullah, seorang ulama yang
konsern di bidang kajian ilmiyah untuk Tanzhim Qoidatul Jihad (Al
Qaeda) mengikuti peran pendahulu beliau Asy Syahid Syaikhul Battar
Yusuf bin Sholih Al ‘Uyairiy Rahimahullah, seputar makna dari jihad
fardhu’ain dalam risalahnya Ajwibah fi Hukmi An Nafir Wa Syartil
Mutashoddi Lit Takfir yang dipublikasi oleh Media Nukhbatul I’lam Al
Jihad.

Asy Syaikh ditanya,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Syaikhuna Al Karim (guru kami yang mulia), demi Allah saya mencintai Anda karena Allah

Guru kami yang mulia, saya mempunyai beberapa masalah

Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang ikhwah (ia pernah
berjihad di Afghanistan setelah peristiwa 11 September) mengenai
masalah pergi berjihad dan hukumnya. Saya sebutkan bahwa hukumnya
fardhu ‘ain. Ia berkata, “Apakah mujahidin membutukanmu sebagai seorang
pribadi?. Yang saya tahu mereka lebih membutuhkan dana daripada orang.
Bahkan sebaliknya. Sepekan yang lalu saya berkomunikasi dengan salah
seorang ikhwah. Ia menyebutkan baru saja selesai tadrib. Di sana sudah
enam bulanan tanpa pernah turun ikut pertempuran. Ditawari ikut
amaliyah istisyhadiyah tapi tidak berminat. Sampai sekarang belum
pernah turun ke medan pertempuran.”

Apakah perkataannya benar?? Apabila demikian halnya, apakah hukum pergi berjihad fardhu ‘ain atau fardhu kifayah? Apabila
perkataannya tidak benar, apakah hukumnya fardhu ‘ain? Dan apakah saya
harus minta izin kepada kedua orang tua atau tidak perlu?

Asy Syaikh Abu Abdurrahman menjawab,

Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Wa ahabbakallah alladzi ahbabtani fih (semoga Allah
mencintaimu, Dzat yang membuatmu mencintaiku karena-Nya). Segala puji
bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah,
keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya.

Wa ba’du,

Ya, pada fase ini (saya tegaskan “pada fase ini”, karena bisa jadi
ini berubah pada fase yang lain), mujahidin di Afghanistan dan Pakistan
tidak membutuhkan mujahid muqatil dalam jumlah besar.

Alhamdulillah, jumlah mujahid muqatil yang ada dari kalangan
muhajirin dan anshar (penduduk setempat) banyak sekali. Tetapi, ini
disebabkan kemampuan medan dan sistem jihadnya (jamaah-jamaah jihad
yang eksis di sana) yang bisa menyerap orang-orang dari sisi
mempersenjatai, memberikan pelatihan, pengajaran, pemahaman agama, dan
peningkatan kualitas mereka secara psikologis dan kesadaran, dst.
Bahkan daya serap mereka dari sisi: pemberian tempat tinggal, jaminan
hidup dalam arti biaya makan, minum, dst.

Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban), Al-Qaida, atau
organisasi jihad lainnya tidak memiliki kemampuan menyerap dalam jumlah
yang banyak sekali. Oleh karena sebab ini, yaitu tidak adanya kemampuan
finansial dan yang serupa, dan sampai masalah kemampuan berkaitan
dengan kondisi geografis. Oleh karena itu kami memandang, kita sedang
ada di fase seleksi dan pemilihan. Maka kami ajak kader-kader khusus
(spesialis) yang pertama kali dibutuhkan jihad. Kemudian, muqatil biasa
sesuai kebutuhan berdasarkan keputusan yang diambil para komandan dan
pemimpinnya.

Kami menerima personal sedikit demi sedikit dan dengan adanya pemilihan dan rekomendasi. Di tangan Allah lah segala taufik.

Ini sehubungan dengan medan kami di sini. Sementara,
medan-medan yang lain, masing-masing menyesuaikan situasi dan kondisi.
Bisa jadi ada medan yang membutuhkan banyak personal sedangkan di saat
yang sama ada medan lain yang tidak memerlukannya. Demikian seterusnya.

Namun, apakah ini menjadikan kita berpendapat bahwa jihad sekarang
ini fardhu kifayah? Menurut pendapatku, pendapat ini tidak tepat. Dan
saya tidak bisa berpendapat secara mutlak bahwa sekarang jihad fardhu
kifayah. Karena kecukupan tidak terwujud dalam kenyataan. Karena, makna
kifayah, sebagaimana dijelaskan ulama, terusirnya musuh, atau
terpenuhinya jumlah yang dengannya musuh menjadi terusir dan ini
sebenarnya juga belum terwujud. Kecukupan kami yang saya bicarakan ini
kembali kepada ketidakmampuan kita menyerap personal dalam jumlah besar.

Faktor ini sebab terbesarnya adalah kesalahan orang-orang kaya dalam
umat ini dan kesalahan orang-orang yang mempunyai kapasitas ilmu, para
pemimpin dan kader-kader pilihan yang telah diberi banyak keahlian.
Kalau tidak demikian, silahkan beri saya dana dan kader-kader pilihan,
maka akan Anda lihat front-front dan kamp-kamp pelatihan yang akan kami
buka untuk mereka dan Anda akan melihat apa yang akan kami perbuat
terhadap musuh-musuh Allah, tentunya dengan pertolongan Allah. Wallahul musta’aan wa hasbunallah wa ni’mal wakiil (Allahlah tempat meminta pertolongan dan cukuplah Allah penolong kami dan Dialah sebaik-baik penolong).

Kemudian, karena kecukupan ini bersifat sementara maka aku katakan
kepada Anda, sekarang ini kami tidak membutuhkan banyak personal.
Namun, suatu hari nanti bisa jadi saya akan menyerukan dan mengatakan,
“Marilah ke sini wahai para pemuda Islam, kami membutuhkan muqatil
sebanyak-banyaknya. Karena ini adalah perang. Perang akan memakan
banyak korban. Dan Allahlah Yang Maha Melindungi.

Demikian juga front-front, ia akan dibuka tergantung kemampuan dan hikmah serta kepentingan (maslahat). Ini harus diperhatikan.

Kemudian hal lain yang perlu saya ingatkan, saya membatasi dengan
medan kita dan medan-medan yang serupa, namun bagaimana dengan
negeri-negeri Islam, bahkan seluruh dunia? Pertama
(negeri Islam), tidak diragukan lagi bahwa banyak negeri kaum muslimin
sedang dijajah dan dikuasai oleh orang-orang kafir dan sebagianya sudah
berlangsung berabad-abad. Wallahul musta’aan.
Dari mulai Andalusia di sebelah barat, pesisir Eropa Selatan, Asia
Tengah, Semenanjung Balkan, Kaukasus dan sekitarnya, sampai Turkistan
Selatan di Cina, sampai banyak negara Asia Tenggara, Singapura,
Philipina, Thailand, dan lain-lain. Bahkan India atau sebagian besarnya
dan negara-negara lainnya. Semua negeri-negeri tersebut dulunya pernah
menjadi negri Islam dan negara Islam, namun kemudian dirampas musuh.
Maka wajib atas kaum muslimin mengembalikannya dan membebaskannya dari
tangan orang-orang kafir murtad yang berasal dari bangsa kita sendiri.
Wajib berperang dan berjihad melawan mereka. Setiap orang yang mampu
wajib melaksanakannya. Secara syar’i, hukum asalnya, memerangi mereka
lebih didahulukan daripada menyerang orang-orang kafir asli di
negara-negara mereka. Adapun ketika sekarang lebih memprioritaskan
memerangi orang-orang kafir asli (Amerika dan sekutunya) karena ada
faktor yang mengharuskan demikian. Lalu siapa yang berjihad melawan
mereka? Dan bagaimana kami katakan jihad hukumnya fardhu kifayah?!
Kalau kami demikian, sungguh kami orang-orang yang terlalu berani!

Kedua yaitu ucapanku, bahkan seluruh dunia.
Karena seluruh dunia menunggu-nunggu kita untuk menaklukkannya dengan
Islam dengan cara memerangi negara-negara kafir dan menaklukkannya
sehingga tidak ada satu pun fitnah dan seluruh dien hanya milik Allah
dan sehingga kekafiran tidak memiliki kekuasaan perkasa yang
menghalangi manusia dari Islam.

Pada asalnya ini hukumnya fardhu kifayah atas umat Islam. Namun bisa
Anda lihat, ia disia-siakan dan tidak yang melaksanakannya. Jadi,
semuanya terancam mendapat sanksi kecuali orang yang menyampaikan udzur
kepada Allah dengan mengamalkan apa yang mampu dilakukannya.

Mungkin bisa kami tambah kewajiban-kewajiban yang lain, seperti
membebaskan tawanan. Ini adalah fardhu kifayah atas umat ini dengan
segala jalan yang disyariatkan. Dari mulai dengan menebus mereka dengan
harta atau membebaskan dengan jalan kekuatan, perang dan senjata, atau
dengan spionase dan tipu daya.

Wajibnya menegakkan khilafah kaum Muslimin dan Daulah Islam yang
sebisa mungkin menyatukan semua elemen umat Islam. dan
kewajiban-kewajiban lainnya.

Oleh karena itu, kami katakan, penjelasan makna jihad fardhu
‘ain atas kita sekarang ini adalah bahwasanya wajib atas setiap muslim
melaksanakannya menurut kesanggupannya dan sesuai dengan kondisinya
serta menurut apa yang wajib baginya.

Ringkasnya, sebagaimana sering saya katakan, adalah kalimat Syaikh Abdullah Azzam Rahimahullah dalam kitab “Ilhaq bil Kafilah“:
Barang siapa yang bergabung dengan kafilah jihad dan Mujahidin dengan
mengorbankan dirinya dan mempersiapkan diri, lisan perbuatannya
mengatakan, sebelum lisannya, inilah saya salah satu panah kaum
Muslimin silakan para pemimpin kaum muslimin lemparkan aku semau
kalian. Maka dikatakan kepadanya: wahai fulan Anda pergi ke tempat ini,
Anda pergilah ke Chechnya, karena mereka membutuhkan orang seperti Anda
dan karena pergi ke sana bagi Anda mudah, misalnya. Anda wahai fulan
pergilah ke tempat itu, dan Anda tetaplah tinggal di tempatmu,
bekerjalah di bidang ekonomi, finansial, bisnis, tulis-menulis,
berceramah, dakwah, dan media atau menuntut ilmu, Anda wahai fulan Anda
harus begini. Barang siapa yang memungkinkan berhubungan dengan para
komandan jihad sehingga ia bisa menjelaskan kepadanya apa yang sesuai
dan wajib baginya dengan tulus, jujur dan ikhlas, ini sudah jelas
(tidak perlu dibahas). Dan barang siapa yang tidak mampu, padahal ini
kebanyakannya, maka orang semacam ini hendaknya berjalan sesuai dengan
strategi umum yang sudah dikenal, mencurahkan kerja kerasnya menurut
kesanggupannya, bertakwa kepada Allah, bermusyawarah dengan ulama dan
mujahid yang bagus dan amanah dalam dien dan ilmunya. Semoga Allah
memberinya taufik dan petunjuk. Dengan itu, ia telah menunaikan
kewajibannya dan terlepas dari kewajiban insya Allah. Allah menerima
amalan orang-orang bertakwa. Oleh karena itu, pendapat yang benar,
jihad pada hari ini tidak wajib minta izin kepada kedua orang tua. Wallahu A’lam. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

(…Kemudian Syaikh mengklarifikasi seputar pertanyaan mengenai
kondisi ikhwah yang enam bulan di afghan dan belum diturunkan ke
front…)_Selesai jawaban dari Syaikh.

Dari fatwa Syaikh Athiyatullah Hafizhahullah jelaslah bahwa memaknai
jihad global fardhu’ain sampai Andalusia kembali ke tangan kaum
Muslimin bukan berarti harus langsung melakukan amaliyah jihadiyah
seperti melaksanakan sholat yang bisa kapan saja dimana saja ketika
masuk waktu langsung dilaksanakan, sholat pun ternyata juga perlu
persiapan seperti wudhunya bagaimana, tempat sholatnya layak atau tidak
dan seterusnya. Bila jihad fardhu’ain dipahami pokoknya wajib amaliyah
maka akan terjadi konsep “yang penting jihad” tanpa mempertimbangkan
perhitungan kemampuan yang cukup, situasi, kondisi waqi’, pertimbangan
politis dan keberlangsungan jihad itu sendiri. Jika sholat saja yang
fardhu’ain perlu pendahuluan yang cukup seperti wudhu dan lain-lain,
bagaimana halnya dengan jihad yang terkait dengan penghalalan darah,
harta, juga dalam rangka iqomatuddin, maka tentu harus lebih
dipersiapkan dan dipertimbangkan lebih matang lagi.

Akhirnya, kita bisa melihat betapa Al Qaeda yang luar biasa dalam
aksi jihadnya begitu bijak dalam menyikapi realitas dan sangat
berhati-hati dalam beraksi, bagi kita di Indonesia yang jelas belum
sebanding dengan mereka maka selayaknya kita mengambil pelajaran yang
banyak dari mereka guna mengulang sukses mereka di negri ini. Kita
semua yang merindukan tegaknya Islam melalui salah satu jalannya yang
bernama jihad harus menyadari bahwa masih banyak hal-hal yang perlu
kita persiapkan lebih masak untuk kemudian merealisasikan jihad di
Indonesia sebagaimana Tanzhim Qoidatul Jihad (Al Qaeda di Afghanistan,
Iraq, Somalia dan front-front lainnya. Wallahu’alam.

Salam hangat bagi para perindu jihad. (AD.P).

Source: arrahmah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: