Bagaimana bisa (tetap) tenang untuk duduk?!


بسم الله الرحمن الرحيم

Forum Jihad “al-Tawbah”

Menghadirkan

Tarjamah

كيف يطيب القعود ؟!

Bagaimana bisa (tetap) tenang untuk duduk?!

للشيخ المجاهد إبراهيم الربيش

(حفظه الله)

Oleh Syaykh Mujahid Ibrohim ar-Rubaysy

(Semoga Alloh menjaganya)

Yang dirilis oleh Departement Produsen Informasi “al-Malahim”

3 جمادى الأولى 1431 هـ

17 \ 4\ 2010 م

Ditarjamah[1] oleh:

Muharridh Muhibbul Haq

بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya segala puji bagi Alloh, kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal kami. Siapa yang Alloh tunjuki, tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang Dia sesatkan, tidak ada yang (dapat) menjadi petunjuk baginya. Saya bersaksi tidak ada ilah (yang haq) selain Alloh saja tidak ada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya semoga Alloh limpahkan barokah dan kesejahteraan baginya, keluarganya dan sahabat-sahabatnya hingga hari pembalasan. Adapun kemudian;

 

Ya Alloh, sesungguhnya kami mengadu kepada-Mu mengenai kelemahan kami, sedikitnya usaha kami, kerendahan kami di hadapaan manusia, berbilangnya tragedy yang menimpa kami, banyaknya luka kami dan tenggelamnya ummat islam dalam berbagai tragedy (yang menimpa) mereka –dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (izin) Alloh!- ummat kita sedang berlari namun tenggelam dalam lumpur darah sedangkan Anda lihat keadaan mereka dalam (menghadapi) musuh-musuh mereka sehingga Anda teringat perkataan seorang yang mengatakan;

 
فإنك لو رأيت عبيد تيمٍ *** وتيمًا قلت أيهم العبيدُ
ويُقضى الأمر حين تغيبُ تيمٌ *** ولا يُستأمرون وهم شهودُ

Sesungguhnya jika Anda melihat budak milik seorang budak

Dan (Anda melihat) seorang budak, (niscaya) Anda mengatakan, “siapakah budak yang sebenarnya?”

 

Perkara itu akan dapat diputuskan ketika ada seorang budak yang hilang

Mereka tidak akan diminta penjelasan meskipun mereka melihat

 

Anda juga sedang menyaksikan keadaan ummat kita yang layak ditangisi, di mana musuh telah menguasai mereka, sedangkan Anda tidak melihat ada umat lain yang merasakan kehinaan dan gangguan sebagaimana yang dirasakan oleh ummat kita. (Mereka ditimpa) berbagai macam luka dan berbagai tragedi, sehingga (kita dapati) di setiap negeri (pasti ada) bencana, luka, gangguan dan siksaan. Mushibah dan problem ini ditambah dengan pecahnya umat kita menjadi beberapa sekte dan golongan, lalu sebagian menindas sebagian yang lain dan musuh pun cukup berdiri sebagai penonton.

 

Di antara ummat ini ada yang merasa cukup dengan pekerjaan. Anda akan merasa heran! Apakah ini bisa menimpa satu ummat yang telah mengukir sejarah dengan kemulian yang pernah mereka ukir dan (ummat) yang kemuliaannya telah mereka rekam!

 

Apakah ummat ini yang dahulu dawlah mereka pernah memenuhi pendengaran dunia dan memenuhi hati musuh-musuh mereka dengan rasa takut dan gentar!

 

Apakah ummat ini yang dahulu Kholifah mereka pernah berkata kepada awan, “hujanilah kami semaumu karena kamu tetap akan keluar untukku meskipun setelah beberapa waktu (yang cukup lama)”!

 

Anda lihat ummat ini berpaling dari diin mereka dan meninggalkan sumber kemuliaan mereka. Sedangkan hari demi hari kehinaan dan kelemahan semakin menjadi. Sungguh Rosul shollallohu ‘alayhi wa sallam telah menggambarkan sifat ummat ini kepada kita sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud beliau berkata,
“إذا تبايعتم بالعينة وتبعتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلّط الله عليكم ذلًّا لا ينزعه عنكم حتى ترجعوا إلى دينكم”

“jika kalian telah berjual-beli dengan ‘inah, mengikuti ekor lembu, rela (sibuk) dengan berladang dan kalian telah meninggalkan jihad, Alloh akan menimpakan kehinaan pada kalian yang tidak (akan) Dia cabut dari (diri) kalian hingga kalian kembali pada diin kalian.”

 

Sungguh beliau ‘alayhis sholatu was salam telah menyampaikan sifat penyakit dan menunjukkan obatnya, yakni kembali kepada diin. Karena kehinaan tidak (bisa) terangkat dari ummat kita kecuali dengan jihad di jalan Alloh dan meninggalkan kesibukan dunia untuk melaksanakan diin Alloh. Jika demikian, kita harus mengeluarkan ummat kita dari gelapnya perasaan lemah, (yakni) dengan kembali pada diin kita dan harus berangkat (berperang) di jalan Alloh. Sesungguhnya berangkat (berperang) adalah sebagai jawaban terhadap perintah Alloh, sebagai alasan di depan Alloh, sebagai pembuat marah musuh-musuh-Nya dan merupakan awal sebab setelah Alloh untuk menyelamatkan ummat ini dari rawa darah dan kehinaan tak berujung.

 

 

Saudaraku, bagaimana bisa kita bisa merasa nyaman untuk duduk (tidak berperang) sedangkan Alloh berfirman,
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُواْ فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ).

“wahai orang-orang yang beriman, mengapa jika dikatakan kepada kalian berperanglah di jalan Alloh kalian menjadi berat terhadap dunia? Apakah kalian rela dengan kehidupan dunia melebihi (kehidupan) akhirat?” (at-Tawbah: 38)

 

Saudaraku, bagaimana bisa kita merasa nyaman untuk duduk sedangkan Alloh berfirman,
(انْفِرُواْ خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ).

“berangkatlah (berperang) dalam keadaan ringan dan (ataupun) berat, serta berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian di jalan Alloh.” (at-Tawbah: 41)

 

Bagaimana bisa kita merasa nyaman untuk duduk sedangkan Alloh berfirman,
(إِلاَّ تَنفِرُواْ يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيماً وَيَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوهُ شَيْئاً)

“jika kalian tidak berangkat (berperang), niscaya Alloh akan mengadzab kalian dengan adzab yang pedih dan Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain, dan kalian tidak akan membahayakan-Nya sedikitpun.” (at-Tawbah: 39)

 

Bagaimana bisa merasa nyaman untuk duduk sedangkan Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda,
“من مات ولم يغزُ ولم يحدث نفسه بالغزو مات على شعبة من النفاق”

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak pernah berperang dan tidak terbetik hatinya untuk berperang, dia mati di atas cabang kemunafikan.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

 

Bagaimana bisa nyaman untuk duduk sedangkan kami melihat syari’ah Alloh ditinggalkan lagi dihilangkan, serta posisinya diganti oleh syari’ah buatan anak Adam? Dan hanya Alloh lah tempat meminta pertolongan.

 

Saudaraku, bagaimana bisa nyaman untuk duduk sedangkan kami melihat saudara-saudara kami dibunuh, kehormatan mereka terkoyak, rumah mereka dihancurkan dan kaum muslimin melarikan diri, sedangkan Alloh memanggil mereka,
(وَمَا لَكُمْ لاَ تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَـذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيّاً وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيراً).

“Mengapa kalian tidak berperang di jalan Alloh dan dalam (membela) orang-orang lemah dari kalangan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang berkata, ‘wahai Robb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zholim, dan jadikanlah pelindung serta penolong bagi kami dari sisi-Mu.” (an-Nisa’: 75)

 

Bagaimana bisa nyaman untuk duduk sedangkan kita melihat negeri-negeri islam dijajah satu demi satu. Negeri-negeri itu jatuh di tangan musuh satu demi satu. Sedangkan para fuqoha’ telah menetapkan bahwa jihad akan menjadi fardhu ‘ayn dalam tiga kondisi yang di antaranya adalah jika musuh telah menyerang salah satu negeri kaum muslimin. Mereka (para fuqoha’) telah menetapkan bahwa dalam keadaan yang demikian, seorang anak (boleh) berangkat (perang) tanpa izin kedua orang tuanya, seorang hamba tidak (perlu) izin tuannya, seorang yang berutang tidak (perlu) izin orang yang menghutanginya. Juga bagi orang yang mampu untuk menolak (serangan), wajib baginya untuk bertahan sesuai dengan kemampuannya. Maka apakah orang yang dapat melihat dan mencermati keadaan kaum muslimin masih ragu bahwa jihad di masa ini fardhu ‘ayn bagi orang-orang yang mampu? Apakah setelah semua yang kita lihat ini masih ada tempat untuk ragu dan berdebat?

 

Mushibah yang besar adalah kita lari dari musuh kita sedangkan mereka merusak di bumi kita, kemudian kita mengadakan berbagai diskusi untuk memperbincangkan apakah jihad fardhu ‘ayn atau fardhu kifayah! Sedangkan tahun terus berlalu diatas bencana yang menimpa kita. Negeri-negeri kita dirampas, kehormatan kita terkoyak, dan kita masih saja pada halaman pertama dari kitab jihad, mendiskusikan apakah jihad bisa berubah menjadi fardhu ‘ayn atau tetap fardhu kifayah?! Saudaraku, berbuatlah semampu Anda, bela-lah saudara-saudara Anda, kemudian berbicaralah semau Anda mengenai hukum jihad.

 

Mushibah ini menjadi bertambah besar ketika Anda melihat ada orang yang memberikan fatwa kepada kaum muslimin bahwa jihad adalah fardhu kifayah dan menghalang-halangi mereka dari jihad, sedangkan dia (sendiri) tidak melihat medan jihad kecuali dari layar (saja). Lalu dari mana dia mengetahui (realita) dan memberikan fatwa?!

 

Saudaraku, jika memang jihad bukan fardhu ‘ayn, jihad adalah amal yang paling dicintai oleh Alloh. Sungguh syaykhul islam rohimahulloh berkata,
“ومن كثرت ذنوبه فإن أعظم دوائه الجهاد في سبيل الله”

“siapa yang banyak dosanya, obat yang paling manjur adalah jihad di jalan Alloh.”

 

Alloh ta’ala berfirman,
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ*تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ*يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ*وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ).

“wahai orang-orang yang beriman, maukah kalian aku tunjukkan pada bisnis yang akan menyelamatkan kalian dari ‘adzab yang pedih? (Yakni) kalian beriman kepada Alloh dan Rosulnya, serta berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa kalian. Yang demikian adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Dia akan mengampuni dosa kalian dan Dia akan memasukkan kalian ke surga yang mengalir sungai dari bawahnya serta (ke dalam) tempat tinggal yang baik di surga ‘adn. Yang demikian adalah kesuksesan yang besar. Juga (akan Dia berikan) hal lain yang kalian sukai. (Yakni) pertolongan dari Alloh dan kemenangan yang dekat. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang beriman.” (as-Shoff: 10-13)

 

Saudaraku, apa yang membuat Anda duduk?

Apakah Anda duduk karena Anda tidak ingin meninggalkan keluarga dan Negara? Mengapa demikian sedangkan Alloh ta’ala berfirman,
(قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ)

“katakanlah, ‘jika bapak kalian, anak kalian, saudara kalian, isteri kalian, keluarga kalian, harta yang kalian kumpulkan, bisnis yang kalian khawatirkan kerusakannya dan tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai dari pada Alloh, Rosul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Alloh mendatangkan perkara-Nya, dan Alloh tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasiq.” (at-Tawbah: 24)

 

Ada orang (berambut) keriting yang pandai keluar untuk berperang, lalu dia berkata menggambarkan keadaannya dan keadaan isterinya

 
باتت تذكرني بالله قاعدةً *** والدمع ينهل من شأنيهما سبلا
يا ابنة عمي كتاب الله أخرجني *** كرهًا وهل أمنعنّ الله ما فعلا
فإن رجعت فرب الناس يرجعني *** وإن لحقت بربي فابتغي بدلا
ما كنت أعرج أو أعمى فيعذرني *** أو ضارعًا من ضنًا لم يستطع حِولا

 

Di malam hari sebuah prinsip mengingatkanku pada Alloh

Airmata ini terminum sebelum terjatuh karena urusannya

Wahai puteri pamanku kitab Alloh yang memerintahku keluar (berperang)

Meskipun tak senang, apakah aku akan membangkang terhadap perintah Alloh

Jika aku kembali, Alloh Robb manusia Yang mengembalikanku

Namun jika aku bertemu dengan Robb-ku, maka carilah pengganti

Aku bukanlah orang yang pincang atau buta hingga Dia memberiku udzur

(aku) bukan pula orang yang lemah yang tak mampu untuk berusaha

 

Bagaimana Anda dapat nyaman hidup bersama keluarga dan anak sedangkan Anda melihat keadaan saudara-saudara Anda?

Apakah Anda tidak merasa sedih dengan keadaan mereka?

Apakah Anda tidak ingin mereka mendapat apa yang Anda sukai?

Apakah Anda rela kami menjadi seperti mereka padahal mereka duduk sebagaimana kita duduk?

 

Saudaraku, sampai kapan kita duduk cuek sedangkan musuh-musuh kita semakin lancang terhadap kita? Semakin lama kita menunda-nunda, kita semakin bertambah mundur dan tidak tahu sampai kapan kita tetap ragu menghadapi setan dan golongannya.

 

Mungkin yang menjadikan Anda duduk adalah karena Anda melihat kerasnya musuh yang melawan mujahidin dan penentangan mereka dalam (melawan) mujahidin, hingga seluruh penduduk bumi membidik mereka dari satu busur, hingga pemeluk agama mereka ada yang menampakkan permusuhan dan di antara mereka ada yang mencukupkan diri sebagai penonton. Jika yang demikian yang membuatmu duduk,  apakah Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam dan para pengikutnya menang serta dapat menaklukan belahan bumi timur dan barat kecuali setelah mereka mengalami kerasnya peperangan hingga mereka mengalami tidur bersama dengan senjata dan bangun menggunakan senjata itu, mereka juga merasakan ketakutan yang amat sangat hingga ada di antara mereka yang tidak merasakan keamanan terhadap dirinya sendiri di rumahnya dan hingga ada di antara mereka yang tidak bisa pergi ke tempat buang air besar.

 

 

Mungkin Anda melihat kerasnya pemboikotan terhadap para mujahidin dan penindasan terhadap mereka secara ekonomi. Maka jika hal itu yang menghalangi Anda untuk berangkat (berperang), dimanakah iman Anda bahwa Alloh lah Yang memberikan rizqi, memiliki kekuatan lagi kokoh? Sungguh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam (ketika) menyeru sahabatnya untuk hijroh, mereka tidak memiliki tempat tinggal di Madinah kecuali masjid,  dan sungguh sebagian mereka menyungkurkan wajahnya hingga ada orang yang melihatnya, lalu menyangkanya sebagai orang gila padahal dia tidak gila, hanya saja dia sangat menahan lapar.

 

Bagaimana (pendapat Anda) ketika Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam keluar dari rumahnya, sedangkan tidak ada yang menyebabkan beliau keluar melainkan rasa lapar dan beliau pernah mengikatkan dua batu pada perutnya karena kelaparan. Beliau juga pernah mengutus pasukan yang berbekalkan sekantong kurma karena beliau tidak mendapatkan selain itu. Kalau saja para mujahidin melakukan hal itu di zaman ini, niscaya yang pertama kali menghadang mereka adalah para khotib minbar dan tukang fatwa bayaran. Para mujahidin itu akan juluki dengan ngawur dan gegabah (karena) menghadapi (musuh) dalam (keadaan) lemah!

 

Saudaraku, apakah Anda duduk karena Anda menganggap diri Anda berada di perbatasan dan di atas kebaikan? Maka sesungguhnya kami menganggap Anda berada di atas kebaikan insyaAlloh, namun tahukah Anda kebaikan yang lebih besar daripada Anda berjihad di jalan Alloh? Sungguh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya –sebagaimana yang ada di dalam (hadits) shohih- mengenai adakah amal yang (pahalanya) menyamai jihad lalu beliau menjawab kamu tidak akan mampu. Kemudian beliau melanjutkan,
“هل تستطيع إذا خرج المجاهد أن تقوم ولا تفتر وتصوم ولا تفطر”

“Apakah kamu mampu ketika ada mujahid yang keluar, kamu berdiri (sholat) tanpa henti dan puasa tanpa berbuka?”

 
(أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَوُونَ عِندَ اللّهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ)

“Apakah kalian mengira memberi minum orang haji dan memakmurkan al-masjidul harom (mendapat kemulian yang) sama seperti orang yang beriman pada Alloh dan hari akhir serta berjihad di jalan Alloh? Tidak sama di sisi Alloh. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zholim.” (at-Tawbah: 19)

 

Saudaraku, Anda berada di atas kebaikan namun Alloh mewajibkan Anda untuk membela kehormatan saudara-saudara Anda dan melindungi benteng islam. Maka hendaknya Anda berangkat (berperang) dan memohon ampun pada Alloh, semoga Alloh mengampuni sikap duduk kita yang telah lalu.

 

Saudaraku, apakah ada kebaikan yang lebih besar dari membela syari’ah dan menjaga benteng diin ini ketika banyak musuh dan sedikit jumlah penolongnya? Apakah ada kebaikan yang lebih besar dari pada Anda keluar dengan apa yang Anda miliki dan mengorbankan nyawa dengan murah dalam keridhoan Alloh, lalu Anda serahkan akad jual beli Anda kepada Alloh dimana Dia berfirman
(إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ)

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari kaum mu’minin jiwa dan harta mereka dengan surga. Mereka berperang di jalan Alloh, lalu mereka membunuh dan dibunuh.” (at-Tawbah: 111)

 

Saudaraku, barangkali yang menjadikan Anda duduk karena Anda melihat atau mendengar sebagian kesalahan dan sikap keterlaluan yang dilakukan oleh para mujahidin. Lalu apakah Anda mendapati dalam kitab Alloh (al-Qur-an) atau sunnah Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bahwa kesalahan bisa menjadikan alasan untuk duduk dari jihad di jalan Alloh? Ataukah kesalahan justru menjadikan Anda terkena dua (beban) kewajiban; (yakni) jihad dan (memberi) nasehat pada saudara-saudara Anda?

 

Katakanlah kepadaku wahai saudaraku, apakah ada amal (yang dikerjakan) tanpa kesalahan? Apakah tidak ada kesalahan dalam pasukan terbaik yang pernah berjalan di bumi ini, (yakni) pasukan Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam? Dalam ghozwah Uhud, Ibnu ‘Ubay menarik sepertiga pasukan agar membiarkan / menelantarkan Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam dan siapa saja yang (ikut) bersama beliau dalam posisi yang paling sulit. Lalu apakah ada orang yang mengatakan bahwa jihad bersama Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam terdapat kekacauan karena pasukan beliau penuh dengan orang-orang munafiq?

 

Dalam perang Tabuk, sekelompok orang-orang munafiq berniat untuk membunuh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam. Maka apakah ada orang yang mengatakan bagaimana kita akan berperang bersama komandan yang prajuritnya berencana untuk membunuhnya?

 

Usamah bin Zaid rodhiyallohu ‘anh pernah malakukan ta’wil hingga membunuh seseorang yang telah mengucapkan “laa ilaaha illalloh”, maka yang dikatakan Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam tidak lebih dari, “bagaimana kamu akan bertanggungjawab terhadap ‘laa ilaaha illalloh’ di hari kiamat?” Apakah beliau menjauhinya atau memerintahkan untuk menjauhinya dan tidak berjihad bersamanya, atau beliau menyampaikan khuthbah untuk membesar-besarkan (kesalahan)nya? Bahkan beliau mengubah (posisi)nya dari personel dalam satu pleton menjadi komandan pasukan dan yang berada di bawah kepemimpinannya adalah sahabat-sahabat senior semoga Alloh meridhoi semuanya!

 

Kholid ibnul Walid rodhiyallohu ‘anh pernah memerangi satu kaum hingga mereka berkata, “shoba’na”[2] (karena) mereka tidak dapat mengucapkan “aslamna”[3]. Maka Kholid pun membunuh sebagian mereka dan menawan (sebagian yang lain). Lalu ketika sampai (berita ini) kepada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam, beliau tidak lebih dari mengangkat kedua tangannya dan berkata,
“اللهم إني أبرأ إليك مما فعل خالد”

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlepas diri kepadamu dari apa yang dilakukan oleh Kholid.”

 

(Namun) yang demikian tidak menghalangi Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam untuk menyebut Kholid,
“هو سيف من سيوف الله”

“Dia adalah salah satu dari pedang Alloh.”

 

Sungguh, di dalam pasukan Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam ada yang bunuh diri, ada yang merampas ghonimah dan ada yang meminum khomr. Bapaknya Hudzayfah ibnul Yaman pun tak sengaja dibunuh dalam ghozwah Uhud. Apakah Anda menghendaki pasukan yang lebih bersih dari pasukan itu?

 

Wahai saudara dalam satu diin, sesungguhnya bencana yang sebenarnya adalah kita mengikuti kesalahan para mujahidin, membicarakannya dan membesar-besarkannya di berbagai media informasi audio visual, sedangkan kita belum mengorbankan sepersepuluh dari yang telah mereka korbankan untuk islam. Mereka telah meninggalkan harta mereka, keluarga mereka dan negeri mereka, sedangkan kita masih ditengah-tengah keluarga dan anak (kita) di Negara kita. Mereka berhadapan dengan rasa takut, kelaparan, dan kesempitan yang amat sangat, sedangkan kita (masih) sangat aman dan santai, bertambah gemuk dan bersanding dengan kemewahan. Setelah itu, kita menuntut dari para mujahidin agar memberikan jawaban pada kita via alat kontol dari jarak jauh, jika tidak, maka jihad mereka (menurut kita) tidak syar’iy, tidak boleh membela mereka, membantu mereka, bahkan tidak (boleh) juga mendoakan untuk kebaikan mereka! Dan ketika Anda bertanya pada salah seorang di antara mereka mengenai sumbernya mengenai kesalahan-kesalahan itu, Anda dapati sumbernya adalah penjelasan dari menteri dalam negeri atau dari berita (yang disiarkan) oleh salah satu stasiun (televisi). Lebih parah lagi ketika salah seorang di antara mereka berkata, “yang memberikan berita kepadaku adalah orang terpercaya.” Aneh sekali Anda! Apakah Anda belum mengetahui bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam pernah diberitahu oleh orang yang disangka dapat dipercaya lalu Alloh berfirman,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ)

“wahai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasiq membawa berita, maka carilah penjelasan, karena (bisa jadi) kalian akan menimpakan bencana pada satu kaum disebabkan ketidaktahuan kalian.”

 

Bukankah lebih utama bagi kita untuk terjun ke medan mereka dan kita rasakan derita yang mereka rasakan. Ketika itu, kita perintahkan mereka terhadap yang ma’ruf dan kita cegah mereka dari yang munkar. Maka boleh jadi kita akan mendapat sambutan mengenai hal itu, dan jika tidak kita telah memiliki alasan di hadapan Alloh.

 
أقِلوا عليهم لا أبا لأبيكم *** من اللوم أو سدوا المكان الذي سدوا

Kurangilah terhadap mereka bukan membangkang pada bapak kalian

Dari sikap mencela, atau gantikanlah posisi yang mereka tempati

 

Sampai kapan… sampai kapan kalian mengkritik orang-orang yang jujur atas (kesalahan-kesalahan) kecil yang tak bisa disebutkan di tempat-tempat mereka yang jujur bersama islam. Sedangkan kalian menghadirkan orang-orang yang tidak mengukir di tengah-tengah islam suatu pengorbanan apapun yang membuktikan kejujuran dan keteguhan mereka.

 

Wahai penduduk Kufah, aku tidak bertanya kepada kalian mengenai (dosa) kecil dan membiarkan kalian melakukan (dosa) besar.

 

Kira-kira, kalau saja para mujahidin tidak melaksanakan jihad yang mayoritas putera kaum kita berpaling darinya, apakah para Yahudi itu (hanya) akan tetap di perbatasan yang telah mereka kuasai sekarang? Ataukah Amerika hanya akan (menyerang) di ‘Iroq dan Afghonistan saja?

 

Sesungguhnya para mujahidin –dengan memuji Alloh-, mereka telah mencegah kekerasan di depan bantuan zionis salibis, (namun) bersamaan dengan itu semua mereka tidak selamat dari gangguan hamba-hamba Alloh. Padahal yang lebih utama bagi kita adalah berterimakasih kepada mereka dan menolong atau menahan gangguan dari mereka dan itulah selemah-lemah iman.

 

Yang mengherankan, ketika Anda melihat manusia berbuat salah, mereka meminta maaf atau mereka (mau) memberikan maaf karena kesalahan adalah sebagian dari tabi’at manusia. Adapun para mujahidin, maka kesalahan mereka tidak (bisa) diampuni, ketergelinciran mereka tidak (bisa) dilupakan meskipun setelah watu (yang lama)! Kita (bisa) melihat kotoran kecil di tempat mereka dan lalai terhadap (kesalahan) pokok / besar di tempat selain mereka.
(وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ*الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُواْ عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ*وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ)

“Celakalah orang-orang yang curang. (Yakni) orang-orang yang jika meminta timbangan pada munusia, mereka minta untuk dipenuhi. Sedangkan jika mereka menimbang untuk manusia atau menakar untuk manusia, mereka mengurangi.” (at-Tathfif: 1-3)

 

Adapun kerusakan (yang menjadi masalah) adalah ketika Anda melihat orang-orang yang dinisbatkan pada ilmu dan da’wah, mereka rela dengan sekte “penitisan” dan mereka banyak membiarkan(nya), menjilat pada penguasa, dan berkumpul pada satu meja dan pada satu barisan bersama penjahat Rofidhoh beserta symbol sekulerisme, mereka ingin mendapat keridhoaan dari setiap sisi dan menahan tongkat di tengah (mereka). Adapun terhadap para mujahidin yang merupakan saudara mereka seagama, maka mereka tidak mendapatkan (apapun) dari mereka melainkan angkat tangan muthlaq dan yang diumumkannya sesuai atau yang tidak sesuai sebagaimana Ibrohim berlepas diri dari kaumnya dan menampakkan permusuhan dan kebencian selama-lamanya. Padahal kalau saja Anda merenungi keadaan mereka, pastilah Anda dapati sikap keras mereka terhadap para mujahidin lebih keras dari sikap keras (mereka) terhadap orang-orang kafir. Yang lebih besar adalah Anda dapati di antara mereka ada yang hidup berdampingan dengan Yahudi dan Nashroni sembari mengumumkan sikap berlepas diri mereka dari para mujahidin selamanya! Pada sebagian yang lain, keadan (mereka) jatuh hingga ketika para pemimpin kekafiran dengan serius menjelek-jelekkan serta melawan apa yang mereka sebut dengan terorisme. Ya Alloh amat mengherankan sekali perkara ini!! Lebih mengherankan lagi dari mereka, ketika Anda melihat ada orang yang segera mengingkari mujahidin dengan berbagai model pengingkaran, meskipun dalam (urusan) yang (boleh) terjadi perselisihan (pendapat) bersamaan Anda lihat musuh-musuh agama ini menumpahkan darah kaum muslimin dan merusak kehormatan mereka tanpa memandang ada orang lemah di dalamnya. Kira-kira, apa yang membahayakan kita untuk diam dan membiarkan perkara-perkara itu berada di tempatnya? Sesungguhnya diam –meski merupakan mushibah yang besar-, akan tetapi hal itu lebih baik dari pada kita menyetujui musuh-musuh kita untuk menjajah mereka dan saudara-saudara mereka.

 

Wahai saudaraku (seiman) pada Alloh, apakah Anda melihat ada sikap moderat jika ada seorang komandan yang bertanggung jawab mengenai penghuni perbatasan dan (mengenai) pekerjaan mereka, lalu Anda melihat orang curang ini mengangkat, merendahkan, menuduh berbuat jahat, mengharamkan dan memberikan kesaksian palsu atau memberikan satu hukum tanpa meneliti keadaan terbaik mereka. Hal ini tidak hanya merugikan penghuni perbatasan itu saja, bahkan juga merusak kebenaran (komentar/fatwa) yang dia bawa, sehingga Anda melihat orang-orang yang ada kebencian dan syahwat dalam hatinya (lega) bertepuk tangan dan memuji-muji orang yang duduk, seakan-akan ia mendatangi mereka dengan suatu solusi, lalu (ternyata) dia menjual agamanya dengan syubhat dan mereka mempercayainya karena syahwat, dan dia tidak mengumpulkan sesuatu kecuali kedustaan. Maka para pendengki pun (bisa) bernafas (lega). Tidak ada yang mengerti (karakter) para lelaki kecuali para lelaki, dan tidak ada yang memahami mereka kecuali dari kalangan mereka.

 

Sesungguhnya musuh-musuh kita telah banyak menyerang kita, mereka telah menimpakan kekalahan besar pada kita. Sedangkan (perkara) paling besar yang membuat mereka marah dan (dapat) mengembalikan tipudaya mereka ke leher mereka adalah berpegang (teguh) pada syari’at Alloh, dan di antaranya adalah berjama’ah.

 

Musuh-musuh kita telah sukses dalam memecah belah kita dan kita memakan sebagian yang lain. Mereka menjadikan sebagian kita menindas sebagian lain dan mereka duduk menonton kita sambil tertawa-tawa. Tidak ada solusi (lain) kecuali kita berkumpul (berjama’ah) untuk memerangi mereka dan kita satukan keseriusan untuk memukul mereka. Jika tidak, kita akan tetap begini jika tidak menjadi tambah buruk. Sesungguhnya jama’ah meski sedikit atau kemampuannya terbatasnya, sungguh jama’ah adalah kekuatan yang ditakuti oleh musuh dan mereka memperhitungkannya dengan seribu perhitungan. Hal itu (akan terjadi) jika jama’ah itu menjalankan sebab dan mempersiapkan bekal yang diwajibkan oleh Alloh.

 

Sesungguhnya jama’ah –demi Robb ka’bah-, adalah bangunan baku dan perintah yang kuat. Katakan terserah Anda mengenai kekuatan yang dihasilkan oleh iman, badan dan Negara. Jama’ah adalah ‘ibadah yang diperintahkan secara syar’iy yang lazim bagi ummat. Namun bilamana para pengikut kelompok (mendapat) kesuksesan dan amal mereka memenuhi pendengaran dan pengelihatan, kewajiban (berjama’ah) ini (akan) terus dirobohkan dan amal mereka yang (dianggap) terpuji.

 

Saya menyangka bahwa anak-anak ummat yang tulus mengambil faedah dari pengalaman sebelumnya. Mereka telah memahami bahwa jama’ah adalah spirit kekuatan dan hilangnya jama’ah adalah hilangnya spirit dan (hilangnya) kekuatan. Mereka telah terlepas dari syahwat, memotong jalan para pemotong jalan kesatuan, dan dengan pandangan mereka yang cerdas, mereka telah memahami bahwa tubuh yang tertimpa luka (hanya) dapat disembuhkan oleh tangan-tangan yang mengamalkan jihad islamiy. (Karena) setiap orang yang melakukan pengobatan, tidak memahami seluruh sarang penyakit. Sedangkan penyakit jasad adalah hati. Lalu mereka mulai memperbaiki hati dan mengobati (bagian) yang menjadi penopang badan. Ketika itu telah membaik, seluruh jasad pun menjadi baik. Sesungguhnya penyakit ummat ini adalah perpecahan, perselisihan dan pertengkaran yang merupakan ajaran agama setan dan tugasnya. Sungguh setan telah putus asa agar orang-orang yang mengerjakan sholat (mau) menyembahnya, maka dia bermaksud untuk menebarkan perselisihan, mengajak pada permusuhan dan kebencian. Sehingga para pecinta syahwat, beserta pengikut dan pendengar mereka pun tunduk kepada si setan itu. Kemudian makhluq-makhluq pun menjadi saling membenci dan fitnah pun membesar. (Hal ini) tidak lain dikarenakan oleh syahwat yang dikeluarkan oleh pemiliknya dengan membalik (merubah) diin dan kebenaran, dan menebarnya di atas keseriusan orang-orang yang tulus. Hingga (ketika) setan itu sampai pada (tujuan) yang dia inginkan, dia tinggalkan mereka di padang pasir tandus yang tak berair dan tidak pula berumput, sedangkan yang ada di depan mereka tidak lain adalah fatamorgana.

 

Ummat ini tidak bisa terlepas dari musuh mereka, kecuali dengan berjama’ah dan berdiri dalam satu barisan menghadapi kebathilan, dan (dengan) memilih laki-laki yang hanya menginginkan kemashlahatan diin dan menguatkan kekuatan kaum muslimin.

 

Sesungguhnya terjadinya kesalahan tidak menggugurkan kewajiban berjama’ah. Ingatlah yang wajib bagi kita adalah berkumpul dan berusaha merubah kemungkaran, lalu kita mentaati Alloh dengan (menjalankan) yang Dia perintahkan dan merubah (kemungkaran) yang dia larang. Wajib bagi kita untuk meninggalkan para pembual / pembuat slogan, orang-orang yang tidak memiliki pengalaman dalam perang dan tipudaya terhadap musuh, serta orang-orang yang tidak memiliki musuh. Sehingga mereka (mudah) berbicara dengan menggunakan bahasa agama untuk mencari ridho musuh, atau karena dengki, atau karena iri, atau karena keinginan mendapat harta atau kekuasaan. Mereka adalah buih dan orang-orang yang berhati rusak yang membenamkan ummat pada kesengsaraan agar mereka (dapat) memetik buah dari keseriusan orang-orang yang tulus dan menikmati kesejahteraan dari mereka.

 

 

Hendaknya kita juga (harus) mengetahui bahwa runtuhnya sebuah dawlah atau kehancurannya ditangan orang-orang kafir tidak berma’na kendor / loyo untuk berjama’ah dan (tidak bermakna) bahwa jama’ah tidak bermanfaat atau pengikut jama’ah tergesa-gesa dalam memetik buahnya –dan memang terjadi-. Sesungguhnya pemuda dalam (kisah) ukhdud / parit, menyebabkan terbunuhnya dirinya dan satu ummat manusia dan mereka dibakar dengan api. Hal itu bukanlah wujud kesuksesan dalam timbangan penyembah dirham dan dinar, akan tetapi Alloh menurunkan (ayat) al-qur-an berkenaan dangan mereka yang (terus) dibaca hingga hari kiamat, agar menjadi petunjuk dan bukti atas kesuksesan dan kemenangan mereka di dunia dan akhirat. Maka apakah (layak) untuk dikatakan, “sesungguhnya ghulam dalam (kisah) parit telah menyeret satu ummat kepada kerugian.”?

 

Hendaknya kita juga (harus) mengetahui, bahwa jika kita menghendaki jama’ah yang tidak (ingin) berhadapan dengan musuh, maka kita bagaikan orang yang membentangkan telapak tangannya (lalu memasukkannya) ke dalam air untuk menyuapkan air itu ke mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Sesungguhnya jama’ah tidak akan memberikan buah yang diharapkannya hingga musuh benar-benar memeranginya dengan sangat sengit. Sedangkan (hasil) peperangan (pasti) bergulir. Pasti ada yang terbunuh, pasti ada yang terluka, ada yang mati di bawah reruntuhan, harus ada yang tertawan dan terusir, bersamaan dengan itu pula terjadi kelaparan, (timbul) rasa takut dan kekurangan obat-obatan. Inilah jalan yang sebenarnya. Kemudian muncullah kemenangan. Sedangkan jika kita menginginkan yang selain itu, maka sesungguhnya kita menginginkan dari Alloh apa yang tidak diberikan pada Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam.

 

 
تريدين لقيان المعالي رخيصةً *** ولا بد دون الشهد من إبر النحلِ
Anda ingin meraih kemuliaan dengan murah
Padahal untuk mendapat madu pasti tersengat lebah
لا تحسب المجد تمرًا أنت آكله *** لن تبلغ المجد حتى تلعق الصبِرا
Jangan Anda kira kemulian adalah kurma yang Anda makan
(karena) Anda tidak akan mendapat kemuliaan hingga mencicipi kesabaran
Barang siapa yang menghendaki selain (jalan) itu, hendaklah dia meminta maaf dengan perkataan,
دع المكارم لا ترحل لبغيتها *** واقعد فإنك أنت الطاعم الكاسي!
Tinggalkanlah kemulian (dan) janganlah pergi untuk mencarinya
Dan duduklah karena Anda (telah) mencicipi (dan) mengenakan(nya)

 

Dan hendaknya kita (harus) mengetahui bahwa diin Alloh (pasti) menang, serta tentaranyalah yang menang dan mendapat hasil akhir yang baik dengan izin Alloh. Kesuksesan dan kebanggaan hanyalah bagi orang yang Alloh jadikan (mampu menanggung) hal itu di tangannya. Ketika Alloh mengizinkan kemuliaan (dicapai) oleh wali-walinya dan Dia giring kemenangan untuk diin-Nya, niscaya bergembiralah siapa yang telah berkorban dan akan menyesallah siapa yang penyesalan tak memberinya manfaat. Dan ketika itu kita akan ingat terhadap firman Alloh subhaanah,
(لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُوْلَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلّاً وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى)

“Tidak sama orang yang berinfaq dan berperang di antara kalian sebelum (datangnya) kemenangan. Mereka itu adalah lebih besar derajatnya disbanding orang-orang yang berinfaq dan berperang setelah (datangnya) kemenangan. Dan semuanya Alloh janjikan kebaikan (bagi mereka).” (Surat al-hadid ayat 10)

 
إذا أنت لم تزرع وأبصرت حاصِدا *** ندمتَ على التفريط في زمن البذرِ

Jika Anda tidak menanam sedangkan Anda melihat orang memanen

Anda (pasti) menyesal karena meremehkan di masa menabur benih

 

Ketahuilah, sungguh telah datang waktunya untuk berangkat (berperang) di jalan Alloh, kita letakkan tangan kita di tangan saudara-saudara kita dan kita bersabar bersama mereka ketika senang, menghadapi bahaya, lapang dan (di waktu) sempit. Jika kita telah melakukan hal itu dengan tawakkal pada Alloh, ketika itu –dan ketika itu saja-, matahari kemenangan akan terbit untuk menyinari bumi islam dengan cahayanya, sehingga orang-orang yang beriman mendapat penerangan dengan cahaya itu dan orang-orang munafiq pun menjadi buta.

 
اللهم انصر المجاهدين في سبيلك في كل مكان, اللهم اجمع كلمتهم على الحق, اللهم أيدهم بجنود السموات والأرض, اللهم أفرغ عليهم صبرًا وثبِّت أقدامهم وانصرهم على القوم الكافرين.

Ya Alloh, tolonglah para mujahidin di jalan-Mu di setiap tempat. Ya Alloh kumpulkanlah kalimat mereka di atas kebenaran. Ya Alloh, kuatkanlah mereka dengan tentara langit dan bumi. Ya Alloh, limpahkanlah kesabaran pada mereka, teguhkanlah langkah kaki mereka dan menangkanlah mereka (melawan) kaum munafiq.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين.

Doakan untuk kebaikan saudara-saudara kalian

yang sedang berjihad

[1] Ditarjamah dari naskah yang dikeluarkan oleh Media Informasi Jihad “Nukhbah”

 

[2] صبأنا (shoba’na) artnya kami keluar dari agama lama menuju agama baru (islam). –pent.

[3] أسلمنا (aslamna) artinya kami masuk islam. –pent.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: