UMAR BIN KHATHAB dan SBY

Salah satu kisah dari Imam Al-Ghazali dengan judul “DIKIRA BUKAN PEJABAT” ini saya persembahkan untuk Bapak SBY presiden republk indonesia.

Pada suatu malam Umar keluar rumah untuk mengontrol keadaan rakyatnya. Beliau sampai pada sebuah kemah yang jaraknya tidak kurang tiga mil dari Madinah. Kala itu Beliau menemukan sebuah kemah yang kelihatan apinya menyala. Ia menghampirinya. Setelah dekat dengan kemah tersebut, Umar melihat seorang perempuan yang dikelilingi oleh anak-anak kecil yang sedang manangis. Umar bertanya perihal mereka kepada perempuan itu. Perempuan tersebut menjawab,”Kami kedinginan dan kemalaman.” Umar bertanya,”Ada apa dengan anak-anak itu?” Perempuan tu menjawab,”Mereka menangis karena kelaparan.” Umar bertanya,”Kalau di atas kuwali itu apa?”Wanita tu menjawab,”Air! Saya membujuk mereka dengan air tersebut supaya mereka dapat tidur.” Lalu wanita itu juga berkata,”Umar itu sepertinya tidak mau peduli.” Ia tidak tahu bahwa yang mengajak berbicara kepadanya adalah orang yang disebutnya itu. Umar bertanya,”Kasihan sekali engkau. Bagaimana pandangan engkau tentang Umar?” Wanita itu menjawab,”Saya tidak tahu apakah dia mengurus kami atau tidak.”
Continue reading

Makna Keadilan Allah

Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al-Ghazali
Orang Buta jadi Korban

Suatu saat Nabi Musa bermunajat kepada Allah di bukit Thursina. Di antara munajat yang dilantunkannya, “Ya Allah, tunjukanlah keadilanMu kepadaku!” Allah berkata kepadanya, ” Jika Saya menampakan keadilanKu kepadamu, engkau tidak akan dapat bersabar dan tergesa-gesa menyalahkan Ku.” “Dengan taufik Mu,” kata Musa, “aku akan dapat bersabar menerima dan menyaksikan keadilan Mu.” Allah berkata, “Kalau begitu, pergilah engkau ke mata air anu! Bersembunyilah engkau di dekatnya dan saksikan apa yang akan terjadi!”

Musa pergi ke mata air yang ditunjukan kepadanya. Dia naik keatas sebuah bukit dan bersembunyi. Tidak lama kemudian datanglah seorang penunggang kuda. Dia turun dari kudanya, lalu wudhu, dan meminum air. Setelah itu dia sholat dan meletakkan sebuah kantong di pinggirnya yang berisi uang seribu dinar.
Continue reading

Lupa Diri

Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al-Ghazali

Ada tiga orang dari bani Israil yang mempunyai penyakit berbeda. Yang pertama menderita penyakit kusta, yang kedua menderita kebotakan, dan yang ketga menderita kebutaan. Suatu saat Allah bermaksud menguji mereka sehingga Dia mengutus seorang malaikat untuk memenuhi mereka. Pertama kali malaikat ini menemui orang yang terkena penyakit kusta. Malaikat bertanya kepadanya,”Apa yang paling engkau inginkan sekarang?” Penderita kusta menjawab,”Rupa dan kulit yang mulus dan hilangnya sesuatu yang dianggap jijik oleh orang lain dari diriku.” Maka malaikat itu mengusap penderita kusta sehingga warna kulitnya menjadi mulus. Lalu malaikat berkata lagi kepada dia,” Kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab,”Unta!”Maka malaikat memberikan seekor unta yang sedang bunting dan berkata,”Semoga Allah memberkatimu dengan unta ini!”

“Selanjutnya sang malaikat menemui orang botak dan bertanya,’Apa yang paling engkau inginkan sekarang?’Orang botak menjawab,’Rambut yang bagus dan sesuatu yang membuat orang lain mencemoohku ini hilang.’Maka malaikat mengusap kepala orang tersebut sehingga hilanglah kebotakannya. Lalu dia pun memberikan rambut yang sangat bagus kepadanya. Malaikat ini bertanya lagi,”Harta apa yang paling engkau senangi?” Orang botak menjawab, “Sapi!” Maka ia diberi seekor sapi yang sedang bunting. Malaikat berkata kepadanya,”Semoga Allah membekatimu dengan sapi ini!”
Continue reading

Jatuh dari Tangga

Ada dua orang bersaudara, yang satu ahli ibadah sedangkan yang satu lagi tukang maksiat. Suatu hari tukang ibadah digoda oleh nafsunya untuk mengikuti syahwatnya. Nafsunya memprovokasi bahwa dirinya sudah sangat lama menghabiskan umurnya dalam beribadah. Ia berandai-andai bahwa jika dirinya selesai melampiaskan nafsunya, ia akan segera tobat karena dirinya mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Dalam hatinya tukang ibadah ini berkata, “Saya akan turun ke lantai bawah tempat saudaraku berada. Saya akan mengikuti apa yang dilakukan olehnya (yaitu melampiaskan nafsu dengan berbagai bentuk maksiat dan kesenangan). Setelah itu sauya akan bertobat dan menghabiskan umurku untuk beribadah kepada Allah. Maka turunlah dia ke lantai bawah sambil membawa niat tersebut.

Adapun saudaranya yang tukang maksiat, dalam hatinya, berkata,”Saya telah menghabiskan umurku dalam kemaksiatan. Sedangkan saudaraku terus-terusan beribadah. Saudaraku akan masuk surga sedangkan saya akan masuk neraka. Demi Allah, saya akan tobat dan naik ke tempat saudaraku untuk ikut serta beribadah dengannya. Saya akan menggunakan sisa umurku untuk beribadah. Semoga Allah memaafkanku.” Maka dia naik ke atas untuk menemui saudaranya dengan niat tersebut.

Sementara itu, saudaranya yang sedang di atas dan bermaksut turun ke bawah dengan niat untuk ikut melakukan maksiat sedang menuruni anak tangga. Tiba-tiba kakinya terkilir dan jatuh ke bawah. Jatuhnya tepat sekali menimpa saudaranya yang akan naik ke atas dengan niat bertobat. Keduanya meninggal seketika. Si tukang ibadah dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan berniat maksiat sedangkan si tukang maksiat dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan berniat untuk beribadah.

Pengemis itu Suamiku yang Dulu !

Ada seorang laki-laki yang sedang makan bersama istrinya. Mereka berdua sedang menyantap ayam panggang. Tiba-tiba datang seorang seorang pengemis. Laki-laki tersebut keluar lalu menghardik dan mengusir pengemis. Selang beberapa lama laki-laki tersebut jatuh bangkrut, kekayaannya habis sehingga dirinya harus bercerai pula dengan istrinya.

Setelah wanita tersebut bercarai dari suaminya, ia menikah dengan seorang laki-laki lain. Suatu hari ia sedang makan bersama suaminya. Makanan yang ia santap adalah ayam panggang. Pintu rumah mereka ada yang mengetuk dan ternyata seorang pengemis. Suami wanita tersebut berkata kepadanya, “Berikan ayam panggang ini kepada dia!” Si wanita tersebut keluar untuk memberikan ayam panggang. Ternyata, pengemis yang datang tersebut adalah mantan suaminya yang pertama. Ia memberikan ayam panggang tersebut dan segera kembali ke dalam rumah sambil menangis. Suaminya bertanya mengenai penyebab tangisannya. Ia menceritakan bahwa pengemis yang tadi itu adalah bekas suaminya yang dulu—tidak lupa ia pun menceritakan bagaimana kisah suaminya yang pernah mengusir seorang pengemis ketika sedang makan seperti yang sedang mereka lakukan. Suami wanita tersebut berkata, “Engkau jangan heran, Demi Allah saya ini adalah pengemis yang dulu diusir olehnya!”

Susu Basi

Menggapai Hidayah dari Kisah Imam Al Ghazali

Suatu hari raja Anusyirwan menderita sakit. Orang-orang kepercayaan dan tentaranyatelah menjelajahi seluruh pelosok kerajaan. Anusyirwan menyatakan kepada para pembantunya bahwa penyakit dirinya hanya akan sembuholeh susu basi yang ada di suatu daerah yang hancur. Maka, seluruh bawahannya menyisir seluruh daerah di wilayah kerajaan untuk menemukan susu basi tersebut.

Dalam beberapa hari seluruh daerah yang ada di wilayah kerajaan Anusyirwan disisir oleh para pembantunya. Namun, ternyata susu basi tersebut tidak di ketemukan begitu juga daerahnya yang hancur tersebut.

Akhirnya, para bawahannya pulang ke istana untuk menyampaikan hasil penyisiran. Mereka memberitahukan kepada baginda raja bahwa susu dan daerah yang hancur tersebut tidak diketemukan. Mendengar laporan para bawahannya seperti itu, Anusyirwan berkata, “Sesungguhnya saya hanya ingin tahu tentang keadaan kerajaanku. Saya ingin tahu apakah ada kampung yang hancur, Kalau ada, saya akan segera membangunnya. Sedangkan jika ada susu yang basi, akibat tidak terjual, saya akan segera memperbaiki keadaan pasar agar proses jual beli di sana lancar. Sehingga, tidak ada lagi makanan atau barang-barang yang tidak terjual. Kalau kalian tidak menemukan susu basi dan kampung hancur itu, berarti kerajaanku makmur dan masyarakatnya tidak kelaparan. Sebenarnya, yang menjadikanku sakit adalah karena diriku merasa waswas andaikan maih ada daerahku yang tidak makmur.”