PEDOMAN HIDUP BERKELUARGA

DASAR HUKUM PERKAWINAN

PEDOMAN HIDUP BERKELUARGA

IKUTILAH PETUNJUK INI

AGAR KITA SELAMAT DUNIA AKIRAT

1. PERKAWINAN

a, Menurut Al Quran

Laki-laki itu adalah pemimpin atas kaum perempuan.

QS: An Nisa’ 34.

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah dahulu

QS:Al Ahzab; 33

Katakanlah kepada perempuan yang

benar “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara

kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali

yang (biasa ) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan

kerudung ke dadanya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya.

QS: An Nur: 33

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu!

Continue reading

Advertisements

Orang Islam Punya Syare’at

Orang Islam Punya Syare’at

        Nabi Muhammad saw adalah seorang hamba Allah. Beliau beribadah hanya kepada Allah swt dan tidak menyekutukan-Nya. Nabi Muhammad saw adalah seorang Rasul Allah, yang seluruh perkataannya benar, dibenarkan dan harus ditaati. Allah swt berfirman, “Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Terj. QS Muhammad 47 : 2). Karena beriman (taat) kepada Rasulullah saw berarti mentaati Allah swt. Allah swt berfirman, “Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (terj. QS. An Nisaa` 4 : 80)

Nabi Muhammad saw diutus Allah swt dengan membawa syari’at. Syari’at adalah peraturan yang ditetapkan oleh Allah swt untuk hamba-hamba-Nya, yang terdiri dari berbagai hukum dan ketentuan yang beragam. Hukum-hukum dan ketentuan Allah swt tersebut disebut syari’at karena memiliki konsistensi sumber kehidupan bagi manusia yang hidup di alam semesta ini. Ia ibarat sumber air minum yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Maka dengan demikian syari’at adalah berbagai ketentuan dan hukum yang ditetapkan oleh Allah swt untuk hamba-hamba-Nya, yang harus ditaati dan dilaksanakan.


Barang siapa dari umat ini yang taat pada syari’at yang dibawa Rasulullah saw, berarti ia taat kepada Allah swt, dan ia akan masuk surga, dan yang durhaka kepadanya akan masuk neraka. Hal ini juga berlaku bagi umat-umat sebelum kita, di mana mereka harus taat kepada rasul yang diutus untuk mereka. Sebagaimana Fir’aun tidak taat kepada Nabi Musa as, maka Allah pun mengazabnya. Allah swt tegaskan, “Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekkah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” (terj. QS Al Muzammil 73 : 15-16)

Nabi saw memberi peringatan pada umat Islam, “Sungguh, kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu, bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya. Sampai kalaupun mereka masuk ke lubang dhob niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasranikah?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi.”(HR. Bukhori dan Muslim).

Apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas sudah terjadi. Kebanyakan orang Islam sekarang ini banyak yang mengikuti budaya/gaya hidup orang Yahudi dan Nasrani. Berita dari Rasulullah saw ini merupakan wahyu dari Allah swt. Sebuah anjuran kepada umatnya (orang Islam) untuk tidak meniru budaya/gaya hidup orang kafir.

Fenomena meniru-niru budaya/gaya hidup orang-orang kafir sekarang ini banyak menimpa sebagian besar kaum muslimin. Bahkan untuk perkara-perkara yang sulit dilakukan sekalipun, ada di antara kaum muslimin yang melakukannya. Pantas Rasulullah saw mengumpamakan dan mengandaikan dengan lubang ‘dhob’. ‘Dhob’ itu termasuk hewan reptil yang ukurannya lebih besar dari kadal dan lebih kecil dari biawak. Binatang ini biasanya hidup di padang pasir. Ia tinggal di dalam lubang berupa saluran sempit, panjang dan berkelak-kelok.

Begitulah yang terjadi dengan tingkah laku orang Islam sekarang ini. Orang Islam punya syari’at atau peraturan yang ditetapkan oleh Allah swt untuk hamba-hamba-Nya, yang terdiri dari berbagai hukum dan ketentuan yang beragam. Aturan itu melingkupi aturan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun, apa yang terjadi dengan umat Islam sekarang ini? Mereka malah meninggalkan syari’at-Nya hanya karena kepentingan dunia semata. Tentang dunia sendiri Allah swt telah memperingatkan, “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Terj. QS Al Hadiid 57 : 20).

Begitu juga ketika umat Islam mengatur sebuah negara. Yang seharusnya menggunakan Hukum Allah (Syari’at Islam), tapi malah menggunakan sistem demokrasi, yang jelas-jelas merupakan budaya dari barat. Sebagaimana kita ketahui bahwa demokrasi adalah sistem dengan kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Artinya, bahwa demokrasi itu adalah kedaulatan di tangan rakyat. Yang dimaksud dengan kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi yang tidak mengenal kekuasan yang lebih tinggi dari padanya, sehingga kekuasan itu berasal dari rakyat tanpa ada batasan apapun. Maka rakyat berbuat apa saja dan membuat undang-undang semaunya tanpa ada seorangpun yang berhak untuk mengkritisinya. Dan hal semacam ini sesungguhnya merupakan sifat Allah swt, sebagaimana firman-Nya, “…Sesungguhnya Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya.” (Terj. QS Ar Ra’d 13 : 41).

Allah swt menerangkan bahwa membuat aturan atau hukum yang berlandaskan kepada selain hukum Allah adalah berarti orang-orang jahiliyah. Menolak hukum Allah menyebabkan datangnya siksa dan murka-Nya yang tidak dapat dihindarkan, untuk ditimpakan atas orang-orang dzalim. Allah swt berfirman, ”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (terj. QS Al Maidah 5 : 49-50)

Berdasarkan ayat di atas, dalam kehidupan ini kita dituntut untuk berpedoman pada Hukum Allah yaitu Syair’at Islam yang berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarkanku ke telaga (Surga).” (HR. Ibnul Abdil Bar)

Kita dituntut untuk istiqomah dan taat pada Syari’at Islam, yang dibawa oleh Rasulullah saw. Bukan ikut-ikutan budaya/gaya hidup orang kafir, yang jelas-jelas mereka adalah penghuni neraka. “Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang).” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.” (terj. QS Az Zumar 39 : 71).

Kita berharap kepada Allah swt semoga kita menjadi kelompok pembela Al Haq, pembela Allah dan Rasul-Nya, pembela syari’at Allah, dan pengibar bendera Islam, yang terus ber-istiqomah melaksanakan Islam sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, yang berani dan bangga untuk menunjukkan dan melaksanakan syari’at Islam. Insya Allah.(muslimdaily)

Bagaimana bisa (tetap) tenang untuk duduk?!


بسم الله الرحمن الرحيم

Forum Jihad “al-Tawbah”

Menghadirkan

Tarjamah

كيف يطيب القعود ؟!

Bagaimana bisa (tetap) tenang untuk duduk?!

للشيخ المجاهد إبراهيم الربيش

(حفظه الله)

Oleh Syaykh Mujahid Ibrohim ar-Rubaysy

(Semoga Alloh menjaganya)

Yang dirilis oleh Departement Produsen Informasi “al-Malahim”

3 جمادى الأولى 1431 هـ

17 \ 4\ 2010 م

Ditarjamah[1] oleh:

Muharridh Muhibbul Haq

بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya segala puji bagi Alloh, kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal kami. Siapa yang Alloh tunjuki, tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang Dia sesatkan, tidak ada yang (dapat) menjadi petunjuk baginya. Saya bersaksi tidak ada ilah (yang haq) selain Alloh saja tidak ada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya semoga Alloh limpahkan barokah dan kesejahteraan baginya, keluarganya dan sahabat-sahabatnya hingga hari pembalasan. Adapun kemudian;

 

Ya Alloh, sesungguhnya kami mengadu kepada-Mu mengenai kelemahan kami, sedikitnya usaha kami, kerendahan kami di hadapaan manusia, berbilangnya tragedy yang menimpa kami, banyaknya luka kami dan tenggelamnya ummat islam dalam berbagai tragedy (yang menimpa) mereka –dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (izin) Alloh!- ummat kita sedang berlari namun tenggelam dalam lumpur darah sedangkan Anda lihat keadaan mereka dalam (menghadapi) musuh-musuh mereka sehingga Anda teringat perkataan seorang yang mengatakan;
Continue reading

Inilah Argumen Ngawur ‘Ratu Sepilis’ Musdah Mulia Soal Jilbab

Ini bukan kali pertama Ratu Sepilis
Musdah Mulia melontarkan argumen ngawur. Jilbab, menurut pejuang
hak-hak asasi kaum homo dan lesbian ini, bukanlah merupakan kewajiban,
melainkan pilihan.

Pendapat itu terungkap dalam talkshow dan bedah buku berjudul Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas Jilbab)” di
sebuah kampus di Jakarta, beberapa waktu lalu. Buku yang ditulis oleh
Juneman, alumnus Fakultas Psikologi UPI YAI, dibedah oleh Siti Musdah
Mulia, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Banten dan Bonar
Hutapea.

Continue reading

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Pada dasarnya, kepemimpinan itu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, Islam telah menggariskan beberapa kaedah yang berhubungan dengan kepemimpinan. Kaedah-kaedah tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

Kepemimpinan Bersifat Tunggal

Dalam khazanan politik Islam, kepemimpinan negara itu bersifat tunggal. Tidak ada pemisahan, ataupun pembagian kekuasaan di dalam Islam. Kekuasaan berada di tangan seorang Khalifah secara mutlak. Seluruh kaum Muslim harus menyerahkan loyalitasnya kepada seorang pemimpin yang absah. Mereka tidak diperbolehkan memberikan loyalitas kepada orang lain, selama Khalifah yang absah masih berkuasa dan memerintah kaum Muslim dengan hukum Allah SWT.
Continue reading

Tentara Musyrik India bunuh lima Muslim Kashmir selama Januari


SRINAGAR  – Di wilayah Kashmir yang
diduduki Musyrikin India, tentara India dalam aksi “perang melawan
teror” kembali menggugurkan lima Muslim Kashmir tak bersalah selama
bulan Januari 2011.

Menurut data yang dikeluarkan Divisi Penelitian Kashmir Media Center
kemarin (1/2/2011), mereka yang tewas termasuk seorang perempuan. 
Sepanjang Januari, tentara pendudukan juga melukai 39 orang dan
menangkap 115 sipil.

Dalam peristiwa lain, pemimpin senior
konferensi seluruh partai Hurriyet, Agha Syed Hassan Al-Moosvi
mengalamatkan kepada publik yang berkumpul di Magam, mendesak India
untuk menyudahi kekerasannya di

Kashmir dan memenuhi janji memberikan Kashmir hak untuk menentukan sendiri kehidupannya.

Sementara
itu, baru-baru ini rakyat Kashmir turun ke jalan di kota Shopian untuk
memprotes penahanan ilegal terhadap seorang siswa oleh polisi India. 
(haninmazaya/arrahmah.com)

Taushiyah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Selasa (16/11/10) saat dibesuk di sel bareskrim Mabes Polri Usatadz Abu Bakar Ba’asyir memberikan taushiyahnya kepada umat Islam yang saat ini sedang merayakan hari raya Idul Adha. Dengan ilmiah beliau menjelaskan apa saja hikmah hari raya idul adha dan apa kaitannya dengan perjuangan menegakkan Islam, dan berikut inilah taushiyah beliau mengenai hikmah Idul Adha.

Idul qurban, qurban di sini dalam bahasa arab asalnya (قَرُبَ) qoruba artinya mendekat. Jadi sebenarnya pelajaran dari idul qurban yaitu untuk menguji kebenaran iman. Kebenaran iman itu harus dibuktikan dan siap untuk berkorban, dalilnya mana? Yaitu ketika Nabi Ibrahim mulai punya anak, setelah diberi anak satu yaitu Ismail diperintahkan Ibu (Hajar) dan anaknya pergi;

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman.”  (Qs. Ibrahim : 37)
Continue reading